Senin, 05 Mei 2014

Sedikit Cerita dari JKT48 Love in Concert Semarang




Sebagai penikmat suatu unit idola lokal yang jaraknya ratusan kilometer jauhnya dari pusat aktivitas mereka, kita engga bisa setiap saat datang menyaksikan penampilan mereka. Biaya dan waktu yang dikeluarkan akan terlalu merepotkan. Jadi pasti kita senang sekali saat pada akhirnya ada momen di mana mereka lah yang datang ke kota kita. Begitu juga saya yang sejak melibatkan diri dalam semua keceriaan ini baru bisa nengokin adek-adek di Senayan 3 kali pun akhirnya memutuskan buat ngisi lembar presensi konser bertajuk JKT48 Love in Concert Semarang. Sempet kecewa sih pas tau member favorit saya (siapa hayoo?) terpaksa engga bisa ikut dateng karena ada acara keluarga yang lebih penting. Tapi untungnya ini tetap team J yang dateng, jadi daripada kecewa ya udah, mumpung engga ada oshimen saya mau Veranda-Veranda-an dulu aja (jangan diaduin ya – ah, kayak diinget aja) hhe.  Lagipula mumpung mereka yang datang ke sini dan saya juga punya misi untuk membawa seorang teman ke jalan yang benar, jadi engga ada alasan buat absen. Maka dengan bermodalkan kuitansi untuk dua tiket kelas festival dan hati yang bersih, Sabtu, 3 Mei 2014 kami naiki motor tua ke suatu tempat di pinggiran kota Semarang. 

Saya sampai di venue jam setengah 6  lebih banyak. Setelah tuker tiket sama (nganter temen) shalat magrib, kita  s  a  n  t  a  i   dulu di depan gedung karena informasi open gate jam 6 sore ternyata engga sesuai sama di lapangan. Lama juga sih molornya, entah member belum siap atau sengaja diundur supaya fans engga nunggu terlalu lama di dalem. Kurang lebih jam 7 pintu akhirnya dibuka. Saya engga tau situasi di pintu VIP, tapi engga adanya jalur antrian dan pintu masuk yang lebarnya hanya sekitar 1,5 meter di pintu festival bikin jadi agak kurang nyaman antriannya. Pas udah masuk ke dalem ruangan sih oke. 

Engga tau ya, emang standard konser jeketi begini kan ya, baru ini nonton mereka di konser. Pertama, yang jelas pendingin udara memadai jadi walau banyak orang di dalem engga kerasa gerah sama sekali. 
Terus, tata letak enak sih kata saya. Area penonton mirip kalo teater. Jadi kelas festivalnya yang berdiri itu letter U kayak orang WL, nah yang VIP duduk di tengah. Jadi kalau pengen ngeliat member dari deket pilih aja posisi di samping kanan atau kiri deket stage. Saya karena  kalo di bagian situ takut leher sakit gara-gara kebanyakan nengok samping dan karena pengen denger suara dengan lebih sempurna (eh, ngefek engga sih?) jadi pilih di belakang aja. Jauh sih tapi kan di tengah, lebih enak aja nikmatin shownya. Lagian ternyata engga terlalu jauh kok festival belakang itu, dan bagusnya lagi panggungnya cukup tinggi jadi keliatan lumayan jelas walau saya berdiri depan FOH. Setelah nunggu sebentar, mungkin cuma 15 menitan, Kageana dibacakan Sonia Natalia dan selang beberapa menit Overture berkumandang tanda pertunjukkan di mulai.

Lantas gimana dengan shownya sendiri? Bentar, minum dulu. 

Sebelum show, salah satu yang saya khawatirkan mungkin pemilihan lagu. Kita kan tau JKT48 udah punya sekian banyak lagu, untuk konser yang cuma 19 lagu bisa aja yang kepilih lagu-lagu yang kita kurang suka, atau kalaupun suka bisa aja flow setlistnya engga sip. Gimana sih jelasinnya? Ya gitulah ngerti kan ya. Nah, ternyata lagu yang dibawain ternyata melampaui perkiraan (lebih tepatnya harapan) saya. Lengkap juga sih kombinasi dari lagu-lagu single, setlist Pajama Drive, RKJ sama DnT ada. Yang engga ada itu lagu-lagu setlistnya team KIII. Ya iyalah. 

Empat lagu pertama diambil dari single-single awal mereka plus lagu kelima, River yang otomatis sudah dikenal semua penonton bagus banget ditaruh di depan buat membangkitkan semangat. Seolah memberi kesempatan para penonton yang kebanyakan sangat jarang bertemu oshinya karena kondisi jarak ini untuk melampiaskan rasa rindu mereka dengan ngechant dan mengayunkan lightstick mereka.  
Sedikit kekecewaan mungkin di beberapa lagu awal sound sempat bermasalah, beberapa speaker engga keluar suara, kurang enak aja di kuping. Mbleret. Untung engga berlangsung lama dan mulai unit song soundnya udah normal. Oke, overture, group song blablabla, MC blablabla akhirnya masuk ke unit song.

Urutannya ntar aja biar lengkap sekalian ya, tak nyontek live report orang dulu, saya agak lupa. Berhubung saya lagi Veranda-Veranda-an saya nunggu unitnya dia dong. Berpasangan dengan Frieska  dia dapet Temodemo no Namida ternyata saudara sekalian. Emang karakter dia tipe bawain lagu-lagu ngondoy begini sih ya, jadi pas dan di sini kelihatan sangat mempesona. Subjektif sih hhe. Tapi emang mengesankan, lagipula ini pertama kalinya saya liat lagu ini live karena saya dulu tidak pernah berkesempatan nonton setlist Pajama Drive. Alhamdulillove yah, Kuroi Tenshi (favorit saya dari RKJ) dan Nage Kissu de Uchi Otose (favorit saya dari DnT) juga ada. Ini yang saya bilang kenapa saya suka setlist konser ini, mulai unit sampai selesai hampir semua lagu yang saya harapkan dibawain, ternyata dibawain. Kesampaian juga ngeliat lagi ada itu dua part koreo yang sangat keren di Kuroi Tenshi dan ngeliat member-member emesh berlarian sambil nembakin machine gun lagi di Nage Kissu. Menyenangkan.

Saya bisa bilang memunculkan lagu-lagu dari setlist DnT yang masih berjalan adalah strategi yang tepat. Selain memuaskan keinginan orang-orang seperti saya yang bosen dengerin single, hal ini bisa jadi cara buat mengundang lebih banyak penonton yang tertarik untuk berkunjung ke teater. Lumayan kaget sih lagu dari DnT cukup banyak yang dibawain. Dan bagaimanapun saya mengharapkannya, saya engga pernah menyangka apa yang datang setelah unit song. 

Ya, Allah. Seifuku ga Jama wo Suru. Ya, Allah.
Lagu kibas rok di konser. Saya sungguh tidak menyangka.
Sejenak saya nyesel engga ambil VIP A.  
Kemudian mulai melafalkan dzikir.



Ok, kalau ini Seifuku ga Jama wo Suru berarti lagu selanjutnya..

YES! ADYTH! 

Hahaha, tuh kan dibawain juga! Saya yang engga biasanya ekspresif dan berperilaku biyayakan pun sampe loncat dan nginjek kaki mas-mas sebelah. Untung dia engga marah, jadi saya engga dislengkat waktu loncat-loncat lagi pas Veranda nyelipin beberapa baris bahasa Jawa di monolognya. Aduh malu-maluin banget mungkin kalo ada yang memperhatikan saya lepas kontrol saking girangnya. Liat Veranda ngomel-ngomel di kota sendiri pake bahasa sendiri. Ya Allah, sampe lupa punya oshi yang engga bisa dateng. Maafkan saya. :( 

Huft. Sudah-sudah, jadi gesrek sendiri inget-ingetnya hha. Lagu-lagu abis itu sama lengkapnya engga usah saya ceritain ya, terlanjur lemah ini, Pak. Lagian lagu lain seperti biasa dibawakan dengan keren, tapi ya udah gitu aja.  Seperti biasa. Bukan biasa yang biasa, tapi luar biasa seperti biasanya. 

Ok, jadi setlist lengkapnya konser kemarin itu gini:
M00.  Overture
M01.  Aitakatta
M02.  Kimi no Koto ga Suki Dakara
M03.  Baby, Baby, Baby
M04.  Ponytail to Shushu
M05.  River
M06.  Pajama Drive (Shania, Rica, Delima)
M07.  Temodemo no Namida (Veranda, Frieska)
M08.  Kuroi Tenshi (Melody, Kinal, Jeje)
M09.  Shinkirou (Haruka, Sendy)
M10.  Nage Kissu de Uchi Otose (Dhike, Vanka, Gaby, Sonia, Nabilah, Ayana)
M11.  Seifuku ga Jama wo Suru
M12.  Adyth
M13.  Manatsu no Sounds Good
M14.  Koisuru Fortune Cookie
M15.  Dareka no Tameni
M16.  Flying Get
M17.  Shoujotachi Yo
M18.  First Rabbit
M19.  Oogoe Diamond

Lho, itu kan Aitakatta sampai River mah satu lagu medley ya? Ah, sama aja buat saya kedengeran sebagai 5 lagu :p

.. alias males ngedit

Hehehe, terlihat menyenangkan bukan? Oh iya, mungkin karena belum banyak yang akrab dengan DnT, penonton di beberapa lagu agak bengong dan sepi chant. Teriakan penonton ramai di lagu-lagu single. Secara keseluruhan crowdnya asik sih, lumayan kompak. Puncaknya dengan adanya project lightstick oranye dan kolaborasi dari temen-temen fans Semarang sama fans Solo bikin kertas-kertas bertuliskan #KotaKamiRinduJKT48 yang diangkat beramai-ramai oleh hampir semua penonton pas Shoujotachi Yo. Saya yang engga terlalu ngikutin kegiatan begituan harus mengakui apa yang dilakukan temen-temen fans bikin acara ini makin meriah. Penonton senang, member senang, semua senang. 



Saya pun senang. Banget malah kalo inget ekspektasi rendah yang saya siap diawal. Saya yang tadinya berasumsi teater lebih asik karena kedekatan dan kehangatannya (?) ternyata bisa SANGAT menikmati konser yang lebih unggul (?) masalah keseruannya. Kekecewaan saya atas ketidakhadiran member favorit saya juga tergantikan dengan performa seluruh member yang sangat maksimal. Kemudian, lepas dari beberapa kekurangan yang sempat saya sebutin diatas, penyelenggara pun keliatannya udah melakukan tugasnya dengan cukup baik. Ya, walaupun dari hasil stalking saya di twitter ada banyak kekecewaan dari beberapa fans karena masalah ini itu. Toh, kesalahan-kesalahan dan kritik dari para fans bisa menjadi pelajaran ketika nantinya bikin acara lagi di lain waktu. Inyinya.. eh, intinya sih JKT48 Love in Concert Semarang sukses, dan mudah-mudahan dengan kesuksesan acara ini JKT48 bisa lebih sering berkunjung ke kota ini dan kota-kota lain tentunya. Karena..

#KotaKamiRinduJKT48


Sabtu, 08 Februari 2014

REVIEW PERTUNJUKAN DAREKA NO TAMENI JKT48 (1 FEBRUARI 2014)

Sebelum nonton kemarin, pengetahuan saya akan setlist baru ini engga terlalu banyak. Saya cuma sempet beberapa kali liat versi A3 di suatu kanal youtube dan baca beberapa artikel tentang lagu-lagu yang mengisi setlist ini biar engga buta-buta amat. Selebihnya saya menolak membaca review dari siapapun yang lebih beruntung karena saya ingin dikejutkan dengan apa yang akhirnya saya liat sendiri.  Sedikit info saja, saya bukan penonton reguler teater JKT48. Show DnT tanggal 1 Februari 2014 kemarin itu baru kunjungan saya yang kedua setelah pertama kalinya saya nonton RKJ 3 November 2013 silam. Saya engga terlalu sering pula menonton video pertunjukan grup lain dalam keluarga 48 selain yang kita punya di negeri ini. Jadi apa yang saya ceritain di sini mungkin engga bisa akurat, engga bisa penuh analisis mengulas  performance para member seperti review yang kalian biasanya baca. Saya akan cerita apa yang saya ingat dan yang telah menjadi kesan sekeluarnya saya dari pintu teater

Saat pertama kali liat setlist ini yang dibawakan team A lewat youtube, saya langsung mikirnya mungkin banyak yang engga akan suka setlist ini. Entah team A yang kurang bagus menampilkannya atau pengaruh hanya nonton lewat video, yang jelas tiga lagu pertama bener-bener engga bisa saya nikmati. Mungkin saya hanya belum terbiasa saja karena beda dengan setlist-setlist sebelumnya yang lagu-lagunya kurang lebih setipe, DnT lebih beda. Di sini ada lagu dengan nuansa tradisional Jepang dan beberapa terdengar seperti musik-musik 80an. Kemudian semua terjawab saat saya menyaksikan langsung di show kemarin. Begitu overture usai dan suara genderang membuka Tsukimisou,  apa yang saya khawatirkan ternyata engga terbukti. Sumpah itu Tsukimisou versi Team J keren banget. Cara menyanyikannya bagus banget , beda aja, lebih menggetarkan. Dancenya juga oke, semangat sekali. Itu saya antara engga nyangka bakal sekeren itu sama seneng plus bangga. Sempet sedikit ngumpat juga sih jadinya.

Dua lagu setelah Tsukimisou perasaan saya masih sama, enak banget flownya. Warning agak asing intronya, lagunya juga sih. Tapi engga ada masalah dan engga ada yang terlalu menonjol untuk diingat sampai Tanjoubi no Yoru selesai dibawain. Mungkin saya terlalu menikmati pertunjukan dan masih sedikit tersesat di antara bintang-bintang, maklum baru teater kedua. Sampai sini performa mereka sebagai tim bisa lah dikasih tepuk tangan panjang. Performa per member, ya maaf saya engga bisa menilai satu per satu karena emang engga tau cara menilainya. Alasan ngelesnya sih karena sepanjang show terlalu fokus ke Beby hehe.

Mungkin agak sedikit subjektif, pada malam itu, di mata saya Beby (dan Shanju) menguasai panggung. Saya engga  ngerti gimana menilai penampilan member secara teknis, mungkin member lain tampil dengan sangat baik, tetapi sepanjang show mereka berdualah yang terlihat sangat menikmati apa yang mereka lakukan di atas panggung.  Puncaknya saya rasa ada di Nage Kissu de Uchi Otose. Di lagu yang ceria ini, dengan berlarian kesana-sini sambil menunjukkan raut muka paling jelek yang bisa mereka bikin, Beby dan Shanju keliatan sangat bersenang-senang. Apa sih yang membuat malam minggu lebih indah selain melihat member favorit bergembira di atas panggung miliknya? Secara personal, sejak itu saya tetapkan lagu ini menjadi favorit saya dari setlist DnT. Bagaikan ditembak dengan machine gun, saya sudah habis, dijatuhkan di lagu ini.

Member lain yang terlihat menarik malam itu adalah Jessica Veranda. Penampilannya di Shinkirou cukup bisa menimbulkan pertanyaan kenapa saya masih menyimpan keraguan  akan eksistensi Tuhan. Shinkirou-nya sendiri merupakan tipe lagu yang syahdu dengan kostum model gaun a la dewi Yunani  dan tata cahaya maksimal yang semakin membuat penonton larut dalam khayalan. Unit ini dibawakan dua orang. Kemarin Rica menggantikan Haruka yang sedang di Jepang. Jujur saja saya tidak memperhatikan Rica tapi sepertinya tidak ada masalah dengan penampilannya. Sangat disayangkan di lagu yang seharusnya dinikmati sambil menyebut 99 Asma Allah dalam hati ini masih ada saja penonton yang nge-chant. Bagaimanapun indahnya lagu ini dan bagaimanapun cantiknya Veranda di sini, Shinkirou mungkin memang bukan jenis lagu yang saya sukai. Saya lebih menikmati lihat dia ngomel-ngomel saat bertemu Adyth jalan sama pacar barunya.

Adyth adalah judul terjemahan dari Koike, lagu ke 10 dalam setlist Dareka no Tameni. Nama Adyth diambil dari salah satu staff JKT48 Operation Team, mungkin dipilih karena ketidakbiasaan dalam pengejaannya (lebih sering Adit atau Adith) sehingga lebih netral. Lagu yang musiknya agak latin-latin gimana ini benar-benar unik karena ada monolog panjang yang dibawakan oleh Veranda. Karena ceritanya di lagu ini Adyth sekarang sudah punya pacar baru yang cantik, isi monolognya antara menyesali diri sendiri sama ngomel-ngomel dalam hati ke Adyth. Ya, abisnya situ jahat sama Adyth sih, Ve.  Sekarang gini kan jadinya, kamu sedih melulu cuacapun jadi engga jelas. Adyth jelas bukan lagu yang pantas dilewatkan sambil livereport di twitter.

Lagu lain yang saya suka adalah Bird dan Rider, dua-duanya merupakan unit song. Titik perhatian saya di Bird hampir sama seperti kebanyakan orang,  yaitu kostumnya yang keren dan kenapa suara Cigull di sini bisa berubah jauh dari yang biasa kita bayangin. Rider, lagu bagus dengan makna dalam. Semua orang pasti sudah tau makna dari lagu ini, semua orang pasti diam termenung di part solo gitar saat semua member penampil mengheningkan cipta yang dilanjutin dadah-dadah ke bagian bangku biru tempat si Rider biasa duduk.  Oke, untuk yang belum tahu, jadi Rider adalah lagu yang dibuat dan dipersembahkan untuk seorang pengunjung setia AKB48 Theater yang pada suatu hari meninggal. Lagu sentimental yang bikin mata saya berkaca-kaca mulai baris lirik terakhir sebelum chorus pertama.

Di Rider kemarin Frieska yang engga hadir digantikan Vanka dari trainee. Sepanjang show Vanka terlihat cukup menyatu dengan kakak-kakaknya, cuman kayaknya dek Tacil  masih agak belum pede untuk berinteraksi lebih nih. Keliatan banget waktu sesi MC dia lebih banyak diem, ujung-ujungnya dia jadi bahan kejahilan. Ada satu sesi di mana tema MC-nya adalah menjawab cepat suatu pilihan.  Misal, pilih makan atau mandi? Jenong atau botak? Vanka dikasih pertanyaan oleh Ghaida untuk pilih antara dia atau Dhike. Vanka yang bingung jawabnya otomatis jadi korban keganasan kedua member tadi yang sontak mepet dia sambil setengah ngancem setengah grepe. Muka polos, bingung campur takutnya Vanka itu aduh lucu banget. Ghaida sendiri semakin membuat kita curiga sama jati diri dia yang sebenarnya setelah masih aja ngajuin pilihan ke Vanka buat pilih dia atau member-member lain, setelah di pertanyaan sebelumnya Vanka memilih Dhike.

Pas sesi MC ini, saya sedikit kecewa karena lagi-lagi belum bisa ngeliat Jeje. Kehilangan Haruka dan Jeje, sesi MC jadi sedikit garing. Untung masih ada Nabilah. Asli ini anak bandel banget keseringan main di galangan kapal mungkin. Engga member engga penonton dikomenin sama dia. Bagusnya dari MC yang engga terlalu heboh, saya jadi lebih fokus ke setlistnya. Kayak apaan aja ye, fokus.

Setelah DnT resmi diumumin jadi setlist baru ini, beberapa artikel yang saya baca menyebut Seifuku Ga Jama Wo Suru bakal jadi salah satu highlight. Ini memang lagu yang udah lama juga sih, salah satu single awal AKB jadi mestinya udah banyak yang kenal, saya sih baru denger sekali ini. Secara lagu menurut saya biasa aja, tipikal lagu-lagu 48 banget. Tapi seifukunya yang seragam sekolah berantakan sama adegan kibas roknya memang benar-benar memukau. Sesuai sih sama liriknya yang lumayan menjurus. Oh iya, coba hitung berapa kali member mendesah di lagu ini?

Natsu Ga Ichatta sama Tsuki no Katachi juga engga terlalu istimewa, so-so, macam cuman buat melengkapi setlist aja. Paling pas part Summer Has Gone jadi inget lagu-lagunya Amber Pacific, padahal beda banget lha. Sama pas Tsuki no Katachi lucu ya, itu yang setelah reff ada chant Oy! Oy! Oy! , sambil member koreonya menggerak-gerakkan tubuh bagian atas.  Lagu terakhir sebelum encore, Dareka no Tameni engga terlalu saya perhatiin, seperti biasa bukan tipe saya aja. Seingat saya sih bisa menikmati lagu ini kemarin.

Ankoru. Dulu saya kira medley song yang abis encore itu akan make antara versi team A atau versi team N, ternyata medley versi lokal pake single-single awal JKT, Aitakatta, Kimi no Koto ga Suki Dakara, Baby!Baby! Baby! – Ponytail to Chou Chou. Entah kenapa transisi antar 4 lagu ini agak kurang enak di kuping saya.  Tapi medley ini bener-bener bikin tensi naik sih. Fans dan member kerasa banget sama-sama semangat di sini, mungkin karena jadi semacam nostalgia ya. Trus, kebetulan deket tempat saya duduk ada penonton dari Jepang, kata Amos temen barengan saya, orang-orang Jepang itu ngechantnya bagus, jadi tambah asik buat kita yang ikut denger. Pokoknya medleynya membahagiakan.

Lagu terakhir Namida Uri no Shoujo saya engga ngerti. Unik juga sih lagu ini ada bagian ngerap-nya. Agak kurang suka bukan karena jelek, tetapi setelah medley bikin tensi naik tadi, masuk ke lagu ini turunnya lumayan drastis aja. Lagunya bagus cuman sepertinya kurang pas ditaruh di ujung setlist.

Oke, jadi akhirnya saya menyelesaikan show Dareka no Tameni. Itu adalah sebuah pertunjukkan yang sangat memukau. Waktu pertama kali saya dateng ke teater RKJ dulu, terus terang abis nonton saya masih sedikit merasa “gini doang, nih?”. Tetapi DnT malam itu benar-benar memuaskan. Adik-adik team J engga membiarkan saya puas dengan ekspektasi rendah yang udah saya siapkan sebelum nonton. Lagu-lagu yang lumayan beda tipenya dari RJK, dengan tema yang lebih beragam, ternyata bukan bikin saya engga bisa menikmati tetapi justru memberi pengalaman baru yang bikin engga bosen sama apa yang ditampilkan JKT48. Asik banget lah setlist ini. Mungkin saya juga belum bisa terlalu jauh menilai setlist ini, tapi apa yang saya alami malam itu cukup untuk bikin saya berencana kembali menyaksikan pertunjukan Dareka no Tameni yang dibawakan oleh JKT48 Team J. 

Jumat, 02 Desember 2011

Playlist Akhir Pekan #2

Sepertinya Playlist Akhir Pekan akan jadi kategori tetap di blog ini seperti Random Thoughts. Jadi setiap beberapa waktu tertentu saya bakal posting lagu-lagu yang pada akhir-akhir itu saya dengarkan, atau hanya saya pikirkan, atau mungkin saya nyanyikan. Dan belakangan ini adalah :

Mayoshi Yamazaki - One More Time, One More Chance


Ini lagu penutup dari film 5 Cm Per Second. Lagu bagus yang saya harap engga bakal pernah saya nyanyikan lagi.


Powerslaves - Semarang


Rasanya ini lagu yang tepat untuk menyambut diri saya sendiri yang kembali ke kota ini.


Dropkick Murphys - Worker's Song


We're the first ones to starve, we're the first ones to die
The first ones in line for that pie-in-the-sky
And we're always the last when the cream is shared out
For the worker is working when the fat cat's about

menyebalkan, ya kenyataannya emang gitu, tapi anak2 kita kelak harus kuliah sih, jadi terus bekerjalah untuk yang kita cintai.


Morrissey - Alma Matters


Saya suka sekali baris pertamanya "So : the choice I have made May seem strange to you But who asked you, anyway ?" Itu kasih saya semangat buat tetep melakukan apa yang saya yakini.


Hoobastank - The Reason


Yang aneh adalah ketika saya mikirin lagu ini dikamar kos (tumpangan), tiba2 dari kamar sebelah sayup-sayup terdengar seseorang nyetel lagu ini. Kayak di film aja.


Dewa 19 - Kangen


Kasusnya sama persis sama Hoobastank. Saya rasa emang udah disiapin sama semesta. Ini lagu waktu jaman Dewa 19 masih masuk akal.


Embrace - Gravity


Soundtrack juga sih kalo ini.

Sabtu, 05 November 2011

Review Komik : Si Gundul

Si Gundul bercerita tentang seorang bocah yang tidak memiliki rambut (sumpah ini deskripsi dari yang bikin). Karakternya digambarkan masih SMA. Agak aneh sebenernya, padahal kita semua tau kalau anak SMA itu menyebalkan dan punya selera buruk dalam segala hal. Bedanya dengan anak SMA lain, Si Gundul engga ngabisin waktunya buat hal-hal engga berguna semacam ikut Pramuka atau dengerin LMFAO sambil belajar shuffle dance-nya. Si Gundul jelas selangkah lebih keren karena lebih suka nongkrong bareng professor dan aktif dalam berbagai kegiatan. Dia bahkan berhasil masuk dalam timnas sepakbola dan bertanding melawan timnas Jepang di Piala Dunia.


Sebagaimana halnya anak seumurannya, Si Gundul sudah mulai menghadapi banyak problematika dan dinamika kehidupan yang sering engga masuk akal. Tetapi semua masalah itu jadi biasa aja karena Si Gundul selalu punya solusi yang jauh lebih engga masuk akal. Walaupun jatuhnya jadi lucu, saya rasa dia engga pernah bermaksud seperti itu. Si Gundul selalu serius dalam mengatasi masalahnya. Dia cuma lakukan apa yang menurut dia seharusnya dilakukan. Misalnya saat dia butuh inspirasi, atau saat dia merasa harus membantu pacar tercintanya ini :

Jenius!

Oh iya, Si Gundul punya pacar seorang cewe cakep bernama Helen. Jangan kaget kenapa dia bisa dapet cewe. Seperti kata dia, kadang beberapa orang emang lebih tertarik pada lawan jenis yang berperilaku sedikit menyimpang. Entah emang jodoh atau kesintingan itu menular, orang-orang di sekitar Si Gundul sama gilanya, termasuk Helen. Ini kenapa saya bilang bahwa Si Gundul "engga sepenuhnya bersalah". Biasanya justru dia yang harus ketemu lingkungan yang lebih sableng. Selain Helen, kadang muncul bintang tamu - bintang tamu seperti Profesor, seorang ilmuwan sinting yang petualangannya bersama Si Gundul bisa dinikmati dalam seri Memburu Jejak U.F.O, atau karakter-karakter dari komik lain, bahkan pernah muncul Ayu Ting Ting dan Limbad! Bener-bener cukup absurd buat bikin kita ketawa ngakak sepanjang hari.

Si Gundul hadir dalam format komik strip di mana rata-rata ceritanya habis dalam satu halaman. Ini efektif karena engga bikin pembaca bosan dengan cerita yang bertele-tele. Orang yang bukan maniak komik pun lebih nyaman baca yang formatnya kayak gini. Jadi, Si Gundul lebih bisa diterima semua orang. Dari segi gambar, Si Gundul punya ciri khas sendiri sesuai karakter gambar pembuatnya. Komik ini engga repot-repot niru gaya komik lain, termasuk gaya jepang2an yang cukup banyak diadopsi komikus lokal.

Si Gundul bukan komik yang pretensius. Lawakannya begitu jujur tanpa berusaha keliatan pintar dan/atau kritis. Saking jujurnya, Si Gundul banyak menampilkan guyonan-guyonan jayus, humor engga penting dan dagelan kuno yang sebenernya kita udah pernah tau. Lelucon model begitu kan ada 2 jenisnya, yang satu adalah yang ditanggepin orang dengan "apaan sih?" sambil berlalu pergi, dan yang satunya itu yang ditanggepin orang dengan "apaan sih?" sambil ketawa. Si Gundul termasuk yang kedua.

"apaan sih?"

Asli, jangan tertipu sama review saya yang serius dan terkesan kaku ini. Saya emang engga bisa ngelucu. Kalau review ini engga cukup buat bikin kalian penasaran, emang udah seharusnya kalian berhenti baca review ini dan langsung kunjungi halaman facebook-nya di http://www.facebook.com/heyndul.

Nah, kalau kalian rasa link-link yang udah saya kasih di atas terlalu banyak memberi spoiler, jangan kuatir. Masih banyak cerita lainnya tuh. Lagipula, Si Gundul kan baru edisi 3. Dengan kreativitas dan produktivitas kreatornya yang tinggi, Si Gundul akan rajin keluar. Bahkan gosipnya mau dijadiin buku, kita tunggu aja beritanya.

Jadi, kalau bos kalian mulai terasa menyebalkan atau pacar kalian mulai lebih terasa sebagai gangguan yang bikin stress, Si Gundul akan menyelamatkan hari kalian.

Download :
Si Gundul Part 1
Si Gundul Part 2 - Memburu Jejak U.F.O
Si Gundul Part 3
Si Gundul Edisi Bandar Pelangi
Si Gundul Edisi Eceran (Download per halaman sendiri yaaa)

Pages :
Facebook Page
Blog yang bikin Si Gundul

Sabtu, 22 Oktober 2011

Playlist Akhir Pekan

Akhir pekan itu jelas tentang sepakbola. Tapi kenapa di playlist ini engga ada lagu tentang bola? Saya juga heran sebenernya.

Placebo - Kings of Medicine


Saya baru2 aja sih tau lagu ini (kasian ya?) dari twit seseorang, ternyata asik juga. Lebih seringnya sih saya suka lagu dari liriknya, terutama yang bisa dipas2in sama situasi yang saya alami. Nah, lagu ini liriknya bagus sih, cuman kayaknya jauh dari saya, gimanapun lagunya emang sip banget.


Beady Eye - The Beat Goes On


Tau lagu ini dari One Stop Football. Ini band barunya Liam Galagher, dan yang saya liat itu pas lagu ini dibawain di acara peluncuran jersey Manchester City musim 2011/2012. Saya bukan fan City sih tapinya.


Againts Me! - Ache With Me


Ini buat yang lagi sibuk bikin skripsi deh.


Mad Caddies - State of Mind


Saya suka lagu2 begini, engga perlu dibawain dengan menye-menye amat buat nyeritain situasi berbingung-bingung atau bersedih-sedih. Ini buat saya aja.


Sheila on 7 - Tunggu Aku di Jakarta


Saya juga engga tau kenapa masukin lagu ini. Yang jelas So7 itu salah satu band arus utama Indonesia yang engga nyebelin. Sayang, video ini kacau nih. Suaranya mendem, engga nemu yang oke.


Poultrygeist Soundtrack - Slow Fast Food Love


Ini bonus. Lagu bodoh dari film bodoh, film bodoh yang sangat menyenangkan. Kalian harus nonton film ini. Oh ini malem minggu, kan? Film yang tepat buat nungguin Liverpool vs Norwich entar malem.

Minggu, 09 Oktober 2011

Review Film : Red State (2011)


Warning : It may contain spoilers !

Selama ini Kevin Smith dikenal sebagai sutradara spesialis film komedi. Mulai dari film-film yang masuk di View Askewniverse termasuk di dalamnya Clerks, Mallrats, Chasing Amy, Dogma, Jay and Bob Strikes Back, dan Clerks II, serta film di luar itu termasuk Jersey Girl dan Zack and Miri Make Porno. Dengan rekam jejak seperti itu, para penggemar dibuat kaget saat dia ngumumin bahwa karya selanjutnya setelah Cop Out adalah sebuah film horror. Film yang mengambil latar belakang agama dan politik ini hasilnya memang benar-benar beda dari film-film dia sebelumnya. Sayang penggarapan yang telalu ambisius dalam membuat film ini engga punya hasil yang maksimal.

Tersebutlah 3 anak SMA bernama Travis, Jarod dan Billy-Ray. Sama seperti anak-anak seumuran mereka lainnya, ketiganya sedang dalam fase dimana hanya ada dua hal dalam pikiran mereka, yaitu : seks dan hal lainnya. Maka ketika di jejaring sosialnya datang sebuah undangan pesta seks dari seseorang di Coopersdell yang letaknya “di situ doang”, datang dan memastikannya adalah langkah yang paling tepat bagi mereka. Meskipun undangan itu berasal dari wanita yang usianya hampir sama dengan ibu mereka. Satu hal yang ada dalam otak mereka adalah “I’m gonna fuck tonight”

Dengan wagon biru pinjaman dari ayah Travis, ketiga pemuda horny ini pun berkendara ke Coopersdell. Entah gara-gara hilang konsentrasi karena engga sabar buat memanjakan kelaminnya atau gara-gara meleng karena nyetir sambil sibuk ngebir plus bercanda, Travis sempet nyerempet sebuah mobil yang sedang parkir di pinggir jalan. Sempat berhenti untuk mengecek, mereka memilih lari setelah tahu di dalam mobil itu ada orangnya. Siapa juga yang peduli pada mobil yang penyok saat ternyata mereka bisa sampai tujuan? Nyonya rumah yang menurut mereka ternyata masih mendingan ini pun menyambut dengan berbotol-botol bir, katanya sih sebagai semacam stimulan. Selesai dengan birnya, ternyata bukan ibu-ibu telanjang dan kenikmatan seks yang mereka dapatkan.


Jarod terbangun dari pingsannya dan menyadari bahwa dia dan teman-temannya telah dijebak. Ibu-ibu itu ternyata anggota sebuah kelompok fundamentalist, jemaat gereja Five Points. Gereja ini dipimpin oleh Abin Cooper, seorang pastor tua yang selalu menyampaikan khotbah-khotbah yang berisi kebencian pada orang-orang yang dianggap menentang agama, semacam Habib Rizieq kalau di Indonesia. Dan sama seperti FPI, para jemaat Five Points ini pun merasa sebagai wakil Tuhan di dunia, sudah tugas mereka untuk menghukum para pelaku maksiat. Beda dengan FPI yang keliatannya grusa-grusu dan haus sorotan kamera, kelompok ini lebih sistematis dan rahasia. Mereka mendapat korbannya dengan memasang jebakan di dunia maya dan mengeksekusinya di gereja mereka sendiri. Kesamaannya, kelompok-kelompok seperti ini engga pernah melakukan apapun kecuali teror, dan itulah yang harus dihadapi Jarod dan kawan-kawannya.

Red State mengawali kisahnya dengan sangat baik. Pengenalan karakter yang singkat dan engga bertele-tele, bikin kita engga perlu menguap berkali-kali sepanjang 20 menit pertama seperti biasanya kita nonton film. Segera, kita dibawa masuk ke dalam teror yang disebarkan Abin Cooper dan para jemaat Five Points Church. Khotbah Abin Cooper soal kemaksiatan harus dilawan sangat efektif untuk ditampilkan di layar, betapapun lamanya bagian itu menyita durasi film. Khotbahnya bisa mengganggu siapapun penontonnya (yang setuju/engga, yang simpatik/benci) untuk alasan-alasan yang berbeda. Begitu pula saat mereka mengeksekusi seorang pendosa sambil menyanyikan lagu-lagu rohani dengan wajah yang tersenyum damai. Sekali lagi, kata yang tepat adalah menganggu. Sampai di sini, walau masih ada pada level rendah, intensitas ketegangan sudah mulai terbangun. Maka, dalam pikiran saya adegan-adegan selanjutnya adalah ketegangan-ketegangan total yang digarap dalam formula slasher pada umumnya.

Namun anehnya, tepat pada saat ketegangan baru di mulai dan teror yang lebih horor baru akan datang, Red State justru mendadak berubah jadi sebuah film action! Bukannya membiarkannya ketiga remaja ini kejar-kejaran dengan jemaat Five Points dan saling membunuh pada akhirnya, Kevin Smith justru memutuskan melawan para fundamentalis ini “lewat jalur hukum” dengan mendatangkan polisi! (lebih tepatnya ATF Agents). Ya Tuhan! Kemudian kita hanya diberi drama baku tembak yang membawa Red State menuju bagian ketiga, sebuah ending yang hancur lebur. Sebuah komedi yang sangat menggelikan, dalam arti negatif.

Emang sih, sejak awal Kevin Smith engga pernah bener-bener menjanjikan sebuah film horror. Dia bilang akan membuat sebuah film horror, “yaaa kalo itu dianggap termasuk film horror sih”. Saat itu sebenernya saya sudah menyiapkan diri buat engga memiliki ekspektasi apa-apa soal film ini, tapi ternyata tetep aja hasilnya mengagetkan. Oke, Red State mungkin emang bukan horror pada umumnya. Tetapi letak perdebatannya bukan pada hal itu. Engga pernah ada yang benar-benar peduli ini film termasuk horror atau bukan. Yang jadi masalah adalah perubahan genre antar sub plot yang dipaksakan di film ini.


Atmosfer horor yang udah dibangun di bagian pertama film ini saya rasa cukup potensial untuk dilanjutkan. Kenapa tiba-tiba berubah jadi film action? Seandainya Red State sejak awal diniatkan sebagai hybrid, katakanlah horror action atau horror comedy, mungkin malah engga akan jadi masalah ketimbang mengubah genre secara mendadak ditengah film seperti ini. Sebetulnya pun, model switch genre seperti ini engga masalah kalau eksekusinya bagus. Robert Rodriguez pernah melakukannya di From Dusk Till Dawn, di mana bagian pertama bergenre action dan berubah jadi horror di bagian kedua. Masalahnya Kevin Smith gagal melakukannya di Red State.

Saya masih saja bingung dengan keputusan ubah genre itu. Ada dua asumsi : Pertama, Kevin Smith sedang mencoba berinovasi dan memilih lepas dari gaya penceritaan dan plot film horror pada umumnya. Hasilnya adalah sebuah bukti bahwa engga selalu inovasi dan perubahan itu menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kedua, Kevin Smith kebingungan waktu menulis Red State. Engga terbiasa dengan gaya film horror yang straight forward dan minim eksplanasi, film ini jadi kebawa gayanya yang selalu ingin bercerita dan bertutur banyak hal. Hasilnya adalah sebuah bukti bahwa melakukan perubahan gaya dan ciri khas itu bukan sesuatu yang mudah, seengganya buat Kevin Smith.

Saya sih cenderung menganggap mungkin berdasar asumsi pertama. Soalnya, keliatan di sini bahwa Kevin Smith terlalu ambisius menyampaikan suaranya. Dia engga mau berhenti pada sindirannya buat para ekstrimis relijius. Sekalian aja dia kasih satir politik tentang aparat pemerintah yang di sini diwakili ATF Agents. Hal ini yang bikin Red State jadi kehilangan fokus.

Karena sebenarnya, dengan kebiasaan bertutur yang mumpuni dalam penulisannya, jika ketiga bagian film ini dianggap berdiri sendiri, sebetulnya masing-masing bagian bukan merupakan sesuatu yang buruk. Masing-masing punya cerita yang kuat dengan dialog-dialog mengesankan khas Kevin Smith. Ini seperti menonton 3 film berurutan. Tetapi sekali lagi dengan catatan jika ketiganya dianggap sebagai bagian-bagian yang berdiri sendiri. Kenyataannya ketiganya adalah bagian-bagian sebuah film dalam satu rangkaian cerita. Maka yang terpampang adalah sebuah kekacauan.

Mengesampingkan cerita yang berantakan tersebut, Red State masih punya poin-poin positif. Pertama adalah penampilan mengesankan dari seluruh pemeran. Terutama Michael Parks sebagai Pastor Abin Cooper yang dengan khotbah-khotbah kebenciannya dan operasi lapangannya sukses bikin pendukungnya setuju dan pembencinya geram setengah mati. Poin positif kedua adalah Red State bisa dibilang berhasil secara visual. Tata kamera dan editing yang memuka patut menuai pujian. Cek aja adegan kejar-kejaran di tangga yang keren itu. Dari segi teknis gambar, mungkin ini film terbaik Kevin Smith sejauh ini.

Tetapi walaupun diakui istimewa, poin-poin positif tadi engga mampu menyelamatkan Red State secara keseluruhan. Untuk berusaha objektif, saya memandang film ini engga sebagai seorang fan Kevin Smith yang kecewa karena karya idolanya engga sesuai harapan. Saya mengapresiasi Red State sebagai seorang penikmat film yang yang gemar nonton film apa aja. Dan kenyataannya, film yang dulu berstatus film yang paling saya tunggu di 2011 ini akhirnya menjadi salah satu film yang paling engga menyenangkan.

Jumat, 30 September 2011

Ini Bikin SIM atau Latihan Sirkus ?

Di usia saya yang udah segini ini, saya baru dapet SIM, baru bikin beberapa saat yang lalu. Saya bikin SIM engga lewat jalur resmi, tapi nembak lewat calo. Bangga? Sama sekali engga tuh. Saya jengkel. Saya tau kalo semua orang juga udah tau praktek sesat itu merupakan rahasia umum, tapi ketika saya udah mengalami sendiri gimana rasanya dipermainkan polisi, kejengkelan saya makin berlipat. Masalahnya saya engga bisa apa-apa kecuali ngomel-ngomel lewat tulisan ini.

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu saya mau bikin SIM C di Polres. Setelah tanya sana-sini, terutama para polisi kenalan orang yang saya kenal, semua memberi jawaban yang sama : “Dateng sendiri aja, ikut tes, cepet dan murah kok”. Kata mereka sekarang udah engga ada praktek percaloan dalam praktek pembuatan SIM. Saya sebenernya engga percaya, tapi waktu itu saya (entah kenapa) percaya aja. Saya pikir kalo itu emang bener berarti baik lha, mengingat beberapa tahun yang lalu praktek bikin SIM lewat calo itu bisa dibilang terang-terangan. Ya udah kan, saya dengan semangat 69 dateng ke Polres buat bikin SIM. Turun dari motor itu udah langsung disambut papan gede bertuliskan “ Pemohon wajib datang sendiri, dilarang melalui calo”. Ok, mungkin emang ini artinya Kepolisian serius untuk menjadi bersih. Sayang, nantinya semua itu cuma berhasil bikin saya kecewa berat.

Prosedur pembuatan SIM yang bener itu melalui beberapa tahap, ada tes kesehatan, tes teori, tes praktek dan pemotretan, setelah itu baru dapet SIM. Singkat kata, saya lolos di dua tes awal, kesehatan dan teori. Di sini mulai ada yang janggal nih, seorang peserta wanita yang lolos tes ini engga ngelanjutin ke tes praktek bareng kami-kami yang juga lolos. Engga perlu jadi detektif buat tahu kalo dia langsung ke ruang pemotretan. Masa dia pulang? Lagipula waktu masuk ke ruang tes teori dia ditemani salah satu polwan yang kemungkinan besar kerabatnya/kenalannya. Ah, tapi biarin aja, kita belum bener-bener punya bukti.

Lanjut ke tes praktek, saya gagal di sini. Kejanggalan lain terpikir, masa dari sekitar 20 orang yang ikut tes praktek cuma satu yang berhasil. Mereka yang gagal diminta untuk mengulang ujian praktek satu minggu kemudian. Di sini saya mau bicara fakta. Pada saat praktek pertama kali, saya sempet kenalan dengan mas-mas yang juga ikut ujian praktek di sesi yang sama. Sebut saja namanya Mas Boy. Tenang aja, kita engga tuker2an nomor hape kok. Mas Boy ini udah 2x ikut ujian praktek dan selalu gagal, artinya minggu depan adalah usahanya yang ketiga kalinya. Nah, minggu depannya saya ketemu lagi sama Mas Boy. Trus saya sapa, kan :

Saya : “Eh, Mas Boy. Gimana, berhasil?.”
Mas Boy : “Saya engga ikut ujian, kamu juga engga usah, langsung ngomong aja ke petugas ujian itu.”
Saya : “Maksudnya?”
Mas Boy : “ Bilang aja udah ikut ujian praktek berkali-kali tapi gagal, bilang minta kebijaksanaan gitu.”
Saya : “Trus”
Mas Boy : “Ya, ntar kan dikasih pengarahan, paling suruh bayar 250 ribu.”
Saya : “Gitu ya, Mas? Wah tengkyu infonya, Mas.”

Ah, sialan! Pantesan engga ada calo, lha calonya oknum-oknum polisi itu sendiri. Saya sih pengen langsung menjalankan sarannya Mas Boy, tapi saya engga bawa duit segitu. Jadi saya pulang aja sambil tahan emosi. Di rumah saya cerita ke bapak saya, lantas beliau menghubungi polisi-polisi kenalan dari orang-orang yang beliau kenal. Setelah dicurhatin panjang lebar, akhirnya kebanyakan dari mereka mau untuk bantuin bikin SIM. Yang lebih bikin kaget adalah semua pasang tarif sama persis, 250 ribu! Masa iya, kita udah tau kaya gini engga bisa menyimpulkan kalau ada yang aneh?

biasa disebut “koordinasi”

Beberapa hari terlewat saat saya bawa lebih banyak uang cuma buat bikin selembar kartu yang engga bener-bener ada gunanya itu. Beberapa oknum polisi yang menjanjikan bantuan ternyata engga ada di tempat saat itu. Setelah beberapa saat kembali bingung dan melepas beberapa pertanyaan lain, ada info bahwa di sekitar kawasan Polres ada warga sipil yang bersedia memberi bantuan mengurus pembuatan SIM. Pemohon seperti saya cuma perlu kasih fotokopi KTP plus sedikit uang lelah, silakan tunggu giliran pemotretan. Saya yang sudah males sama ujian praktek omong kosong itu akhirnya menggunakan jalur sangat tidak resmi ini. Biaya yang harus saya keluarkan Rp 400.000,- !!! Cih. Maaf nih kalo berprasangka, tapi saya berhak curiga bahwa itu 100 ribu buat biaya SIM, 150 ribu buat oknum polisi, 150 ribu buat calo. Oh, atau 100 ribu buat biaya SIM, dan 300 ribu buat dana kemanusiaan?

Ok, jadi praktek percaloan itu masih ada. Lantas, kalau saya kecewa dan tidak setuju dengan itu kenapa saya tetep bikin SIM lewat calo? Harusnya lewat jalur resmi dong? Eh, saya sih pengennya juga gitu. Tapi kawan, engga segampang itu.

Ada yang pernah ikut ujian SIM? Saya tanya dulu soalnya banyak temen yang udah saya tanya, dan mereka selalu jawab belum, karena dapet SIM-nya nembak. Ya, paling engga semua orang tau lah cara ujiannya itu kan? Tapi engga semua orang ngerasain langsung, dan saya merasa wajib kasih cerita tentang ujian itu menurut versi saya. Ujian teorinya mah kita lewatin aja ya. Pertama karena itu cuma soal-soal seberapa paham kita akan peraturan-peraturan lalu lintas, kedua karena ujian teori itu masih masuk akal. Ujian praktek itu yang aneh.

Saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saya engga tau gimana ujian praktek di tempat lain, tapi berhubung ini acaranya kepolisian, harusnya sih di mana aja sama aja, kan standard. Jadi ujian prakteknya itu kita harus berhasil melewati balok-balok kayu yang disusun zig-zag dengan lebar hanya sekitar 75 cm tanpa terjatuh. Sekilas mudah memang, tapi setelah mencoba saya rasa itu adalah ujian yang engga bener.

Buat saya (dan kebanyakan pemohon lain, saya yakin bisa sampai 90 % pemohon), ujian prakteknya susah banget! Polisi pasti akan bilang kalau ujian itu udah sesuai standard, dan bisa untuk menilai kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi sebenarnya di jalanan.

Hah? Yang bener aja, Pak? Sekarang gini deh, saya mau kasih dua pendapat. Pertama, yang namanya ujian itu harus sesuai dengan kemampuan pesertanya, paling engga tuh engga terlalu jauh dari kemampuan peserta. Sedangkan yang kita lihat pada ujian praktek pembuatan SIM engga seperti itu, kalo emang itu sesuai standar yang ditetapkan, kenapa jauh lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil? Artinya, apakah sebenernya mayoritas pengendara motor di Indonesia itu engga layak dapet SIM? Tapi kenapa rata-rata pemohon akhirnya tetep datep SIM? Apa karena mereka ngulang ujian berkali-kali sampai berhasil? Saya kok engga percaya. Lepas dari itu, ujiannya aneh kan? Dalam uji kemampuan kalo ada sedikit orang yang gagal, berarti emang orang itu engga punya kemampuan. Sedangkan kalo di ujian lebih banyak orang yang gagal, berarti ada yang salah dengan ujiannya. Jadi, standar dari mana ?

Lagipula, yang kedua, ujian prakteknya menurut saya sih engga bisa jadi acuan buat menunjukkan kemampuan pengendara dalam menghadapi situasi sebenernya di jalanan. Bisa belok zig-zag di celah sempit gitu engga menggambarkan apapun. Selama belasan tahun naik motor di jalan saya nyaris engga pernah tuh ketemu situasi yang bikin saya sampai harus zig-zag kaya gitu, bisa diitung pake jari-jari sebelah tangan doang lah berapa kalinya. Engga bisa dipungkiri kalo teknik berkendara emang berpengaruh buat keselamatan di jalan. Tapi engga sampai yang begitu-begitu amat juga ah tekniknya.

Teknik standar rasanya sih udah cukup ya. Dan ngomongin soal keselamatan di jalan, sebetulnya ada yang lebih sering bikin bahaya para pengguna jalan, yaitu dari sisi perilaku berkendara.Pengendara yang punya teknik mumpuni tapi engga ikut peraturan dan/atau ugal-ugalan itu yang lebih bikin bahaya pengguna jalan yang lain, kan? Kecelakaan di jalan yang utama kan disebabkan perilaku yang engga bener, setelah itu karena hal-hal yang diluar kuasa, baru yang terakhir karena teknik berkendara yang baik. Okelah, memang persoalan perilaku ini agak susah ngetesnya, jadi mungkin karena itu engga dimasukin ke tahapan ujian pembuatan SIM. Trus kalo gitu ya itu tadi, jangan ujian prakteknya jadi lebay lah. Kita ini bikin SIM atau latihan sirkus? Kenapa engga sekalian aja suruh ngelompatin lingkaran api?

abis ini ke ruang pemotretan

Mungkin akan ada yang bilang kalo ada yang berhasil berarti bukan berarti ujian itu engga bisa diterapkan. Iya sih emang, itu polisi yang kasih contoh juga bisa, tapi kan dia emang tiap hari begituan, wajar. Trus beberapa pemohon bisa? Iya, tapi mayoritas kan engga bisa. Kalo ada satu yang bisa bukan berarti semuanya bisa kan? Kami2 yang lain sih juga lama-lama bisa kalo latihan terus, toh polisi juga kasih waktu seminggu buat ngulang ujian. Tapi, hey! Emangnya para pemohon SIM itu pengangguran semua apa? Beberapa dari kami adalah pegawai kantoran yang susah minta ijin bos, beberapa dari kami punya usaha sendiri yang kalo satu hari tutup berarti hari itu kami engga dapet penghasilan, beberapa lainnya siswa yang sekolah 6 hari seminggu, atau ibu rumah tangga yang juga sibuk berorganisasi, atau artis sinetron yang sibuk syuting stripping. Dan polisi kasih waktu buat ngulang ujian praktek SIM? Pak polisi, waktu luang kami engga sebanyak itu buat latihan begituan. Kami akan datang mengulang ujian praktek minggu depan cuma untuk gagal lagi.

Itu artinya, kalo saya, memaksakan diri bikin SIM lewat jalur resmi, bisa2 saya baru dapet SIM setelah melewati ujian praktek yang kesekian puluh kali. Maka berapa waktu yang saya sia-siakan dan biaya yang saya habiskan? Bandingkan dengan lewat calo yang hanya membutuhkan waktu setengah jam tanpa perlu repot-repot ujian. Saya sih pengennya lewat jalur resmi. Tapi saya terpaksa bikin SIM dengan cara nembak. Atau dipaksa?

Sebagai syarat untuk mendapatkan SIM, seolah rangkaian ujian yang harus kita jalani itu masuk akal. Tujuannya biar mereka yang ngedapetin SIM adalah orang-orang pilihan yang memang mampu berkendara dan memahami dan menerapkan atauran-aturan lalu lintas. Apa bener begitu? Semoga aja sih bener, tapi buat orang seperti saya yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk berprasangka buruk, prosedur pembuatan SIM lebih keliatan seperti sebuah jebakan. Uji kesehatan dan uji teori mungkin bisa saya terima walaupun uji kesehatan juga sebetulnya mencurigakan karena rasanya itu sih cuma formalitas. Uji teori jelas buat mengetahui sejauh mana pemahaman pengendara soal rambu dan peraturan lalu lintas. Nah, ujian prakteknya nih, ampun deh.

Saya yakin polisi pasti lebih tau soal segala macam yang udah saya bahas di atas. Bahwa ujian prakteknya aneh, bahwa perilaku lebih berperan di jalan raya, dan sebagainya, dll. Bahkan saya yakin bahwa masih ada praktek2 sesat dalam pembuatan SIM. Tetapi kenapa polisi diam dan bersikeras kalo prosedur sudah sesuai standar dan selalu ngomong ke kita suruh bikin SIM lewat jalur resmi? Sebagai masyarakat yang membiayai hidup mereka, boleh dong kita bertanya-tanya pada kepolisian, apa ini emang disengaja? Soalnya selama ujian prakteknya masih seperti itu, pasti akan selalu ada praktek percaloan.

Sejujurnya saya emang kecewa sekali harus bayar lebih mahal untuk dapet SIM dengan cara nembak, tetapi saya jauh lebih kecewa karena saya merasa dibohongi. Katanya suruh lewat jalur resmi tapi ternyata kepolisian memang belum sebersih yang digemborkan selama ini. Ok, soal kecurigaan2 yang saya lontarkan mungkin salah, hanya Tuhan dan pihak polisi yang tau kenyataannya. Masyarakat cuma bisa bertanya-tanya. Yang jelas kepolisian engga memuaskan. Engga usah jauh2 soal kemampuan nangkep koruptor atau teroris deh, soal pembuatan SIM aja mengecewakan. Kalo begini terus sih masyarakat akan memberi nilai buat kinerja kepolisian engga lebih banyak dari jumlah gol yang diciptakan Iker Casillas buat timnas Spanyol.

Buang-buang waktu engga sih ngomel engga jelas begini? Saya tau semua orang juga udah tau apa yang saya omongin sebelum baca ini. Semua orang tau ini rahasia umum. Saya tau tulisan ini engga berefek apa-apa juga.


mending nyanyi aja


Note :
Video diatas adalah rekaman Morgue Vanguard a.k.a Ucok Homicide yang jammin' sama Public Enemy di Java Soulnation kemarin. Ucok yang ngerap diiringi Flavor Flav yang ngedrum, masukkin chorus Fuck The Police-nya Thurz hahaha.. terharu nih liat legenda ketemu legenda.

Dan sebagai bonus karena udah baca postingan ini sampai selesai, silahkan download mixtape "Fuck The Police" dari Morgue Vanguard di link berikut ini :

http://gutterspit.com/2011/09/09/fuck-the-police-mixtape/

Minggu, 11 September 2011

Video - Video Penggoda

Beberapa hari belakangan saya cukup banyak menonton video2 keren, termasuk beberapa music video, cuplikan pertandingan sepakbola, film pendek, maupun film panjang. Dari beberapa di antaranya, ada dua video yang bener2 bikin menganggu pikiran saya. Keduanya sama2 teaser buat sebuah karya yang belum dirilis. Dan sebagai teaser, dua video ini sangat berhasil membuat saya penasaran dan engga sabar untuk menikmati versi lengkapnya.

1. The Raid Official Trailer



The Raid adalah film panjang ketiga Gareth Evans, seorang sutradara asal Inggris, atau film keduanya yang diproduksi di Indonesia setelah Merantau. Film yang di Indonesia punya judul Serbuan Maut ini, saat ini sedang berkeliling di festival-festival film internasional sebelum dirilis resmi di Indonesia. Saat ini para kru The Raid sedang menikmati banyak pujian setelah filmnya diputar di Toronto International Film Festival.

Saya sendiri sih dulu kecewa sama Merantau, yaa mungkin ekspektasi yang ketinggian aja pas sebelum nonton. Tapi trailer The Raid ini emang bener2 mantap dan menjanjikan tontonan yang sangat mengasyikkan. Sepertinya ini akan jadi film laga paling keren di Indonesia sejak Sisworo Gautama Putra bikin Jaka Sembung 1981 dulu. Kita belum tahu memang, tapi pantas ditunggu.

Eh, temen2 yang seumuran sama saya mungkin agak engga asing sama musik latarnya? Tahun 2000 - 2004an musik2 begini sering kedengeran di radio hehe... Iya, saya baru tau nih kalo Mike Shinoda dari Linkin Park yang ngisi musik latar buat film ini.



2. The Ataris - Pre-Production


Ini adalah video 50 detik yang diupload The Ataris di akun vimeo mereka, di mana Kris Roe dan Bob Hoag sedang mengerjakan sepotong "bridge" pada sebuah lagu baru untuk album terbaru mereka The Graveyard of The Atlantic. Pada obrolan lingkar dalam para penggemar, video singkat ini cukup membuat heboh karena sedikit banyak kasih bocoran akan seperti apa album baru nantinya.

Para penggemar puritan tentu akan kecewa karena sepertinya The Ataris jelas engga akan kembali ke era-era awal saat mereka masih membawakan pop punk yang upbeat dan straightforward. Dari cuplikan video ini sih album baru akan lebih mendekati Welcome The Night yang fenomenal itu. Kalo kata temen saya yang ngerti musik sih, rekaman ini kedengeran seperti This Will Destroy You, Mogwai, dan Explosion in the Sky. Buat fan dengan kuping moderat seperti saya, ini bukan suatu masalah. Video ini malah bikin saya semakin engga sabar denger album baru mereka.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Festival

Festival sudah dimulai. Jutaan peserta antusias mengikutinya dengan berbagai motif dan alasan. Pada umumnya adalah perasaan terharuskan, sebagian tulus menangkap momentum, sebagian lainnya mengikuti dalam keberpuraan. Mungkin saya termasuk golongan yang ketiga, tetapi seperti biasanya para pembohong, alasan selalu saja tersedia. Saya lebih suka disebut sedang ikut meramaikan. Ya, meramaikan saja, tanpa antusiasme, tanpa intensi tertentu. Saya peserta tidak resmi, sebab saya tidak terdaftar sebagai anggota. Seberapa keraspun saya beranggapan bahwa saya anggota, untuk saat ini tidak akan mungkin saya masih termasuk anggota. Mungkin orang lain akan menyarankan saya untuk berhenti. Sia-sia saja mengikuti sesuatu yang tidak dipercaya.

Oh, kalau soal festival ini, saya percaya betapa kerennya festival ini. Begitu pula berbagai acara lainnya. Hanya saja saya sedang meragukan kesahihan klaim dari pihak penyelenggara. Bukan hal yang mudah untuk percaya pada sesuatu yang bisa saja diceritakan oleh siapapun. Sebenarnya, saya bahkan sudah tidak mengikuti berbagai acara lain dalam kurang lebih 3 tahun terakhir. Selama 3 tahun terakhir pula saya masih mengikuti festival ini. Bedanya, saya masih senang hati menjalankannya - walaupun tanpa antusiasme. Mungkin orang akan menyarankan saya untuk berhenti. Sia-sia, katanya. Tetapi tidak seperti berbagai acara lainnya, sejarah keikutsertaan saya dalam festival ini lebih banyak memberi kesan. Ada sesuatu di sini yang membuatnya tidak mudah untuk begitu saja ditinggalkan setelah bertahun-tahun keikutsertaan sebagai peserta. Mungkin orang bilang sia-sia. Sejujurnya, saya pun masih terus bertanya.

Selasa, 12 Juli 2011

Random Thoughts #2

Entah kenapa, hal2 yang berkeliaran di pikiran saya belakangan selalu berhubungan dengan sepakbola, atau football, atau kata fukkin' yanks : soccer. Jadinya ya artikel Random Thoughts edisi kedua ini temanya sepakbola.

1. Djohar Arifin Who-sein itu siapa ya? Sebelum kongres kayanya masyarakat lebih kenal Agusman Effendi atau Erwin Aksa. eh, tau2 ini orang jadi Ketua Umum PSSI aja. Kita semua tau kalo pasangan ketua dan wakil yang baru menang karena dukungan kuat dari G-78, gerombolan yang notabene bahkan sampe H - 2 itu masih ngotot majuin pasangan AP - GT. Ngeliat kengototan mereka sampe berani nantangin FIFA kemaren rasanya kok engga salah kalo saya curiga sama pilihan baru mereka. Tapi buat apa sih kita berprasangka buruk? mari kita optimis aja sama pengurus baru, yang terpilih lewat prosedur yang bener. Biarkan mereka membuktikan bahwa mereka pantas terpilih. Toh sebenernya, rekam jejaknya di dunia olahraga ternyata engga main2. Buat pengurus baru selamat yaa, jangan lupa makan2nya.

2. Saya punya beberapa temen yang berusaha keren dengan cara "menjadi orang lain". Nyontek sih oke2 aja ya, tapi nyontek yang baik sih dari berbagai sumber, kalo mengkopi habis2an satu sumber cuma akan berakhir pada kegagalan. Contoh paling aktual udah jelas Timnas Argentina. Memaksakan diri jadi Barcelona cuma membawa mereka pada hasil imbang di dua laga pertama grup A Copa Amerika 2011, soalnya mereka bukan Barcelona. Mereka engga cuma gagal, tapi juga kelihatan sangat menyedihkan. Setelah dengan sedikit perubahan, buktinya mereka bisa menang besar di laga terakhir lawan Kosta Rika dan lolos ke babak selanjutnya. Jadi, masih mau jadi orang lain?

3. Saya lagi dalam situasi yang sama seperti Carlos Tevez nih. Kami engga punya masalah dengan pekerjaan atau tempat tinggal kami yang sekarang. Keren2 aja tuh, dan menyenangkan juga. Masalahnya, kami kesepian. Tevez pengen pindah dari Manchester City biar deket sama keluarganya yang engga betah di kota Manchester, saya pengen pindah dari Cilacap dan balik ke Semarang karena temen- temen tercinta saya ada di sana. Tetep aja ya, nyempilin curhatan tiap ada kesempatan hehe...

4. Setelah saya coba melakukan analisis mendalam dengan melihat lagi rekaman2 pertandingan dan rekap statistik Liga Inggris musim lalu, saya sampai pada satu kesimpulan yang mengungkap resep utama sehingga MU bisa jadi juara. Yaitu bahwa ternyata, Manchester United bisa jadi juara Barclays Premier League 2010/2011 karena mereka ikut dalam kompetisi Barclays Premier League 2010/2011. Mungkin rahasia itu bisa menjawab pertanyaan, "kenapa PSCS Cilacap engga berhasil juara ISL musim lalu?"

5. Random Quote: "Winning doesn't really matter as long as you win." - Vinny Jones

Kamis, 30 Juni 2011

Random Thoughts #1

Lho, katanya mau posting tulisan tentang Maxalmina ? Ah, ntar aja itu, masih males. Sekarang saya mau ngenalin satu kategori baru artikel di blog ini yang saya kasih nama Random Thoughts. Sesuai namanya, artikel kategori ini ntar isinya macem2, engga ada batasan tema dan jenis tulisan. Jadi isinya bisa opini, bisa pernyataan, bisa pertanyaan, bisa informasi, bisa juga (kebanyakan sih) seperti biasa curhat. Tulisan ini bisa aja ngomongin politik, agama, budaya, romansa, film, musik atau juga olahraga.

Alasan kenapa saya bikin artikel kategori ini sebenernya gara2 saya merasa kalo pikiran saya kadang dilintasi banyak hal yang pengen saya ceritain ke orang2. Tapi kebanyakan hal-hal yang saya pikirin itu engga terlalu penting buat dibahas, jadi mau dibikin satu tulisan khusus di blog rasanya terlalu pendek, mau ditulis di status pesbuk kayanya terlalu panjang. Nah, daripada menuh2in pikiran mending saya tulis aja bermacam hal yang engga saling berhubungan itu, tapi digabungin sekaligus dalam satu tulisan. Untuk edisi pertama, hal2 ini yang ada dalam pikiran saya :

1. Saya tiba-tiba punya teori tentang logika orang bohong. Jadi gini, seseorang yang lagi boong biasanya kalo udah tersudut akan menunjukkan sikap, melakukan sesuatu, atau mengeluarkan pernyataan tertentu. Tindakan itu menurut logika orang bohong (dan logika umum juga sih sebenernya) akan mengesankan bahwa dia ini engga seperti yang dikira dan orang lain akan percaya dia engga bohong. Cuman masalahnya, kebanyakan tindakan ini dilakukan secara sembarangan dan terburu-buru yang malah bikin orang lain justru makin curiga. Bentuknya sih bisa macem2 ya, kalo yang saya paling sering tau sih contohnya kalimat2 gini :
"ya udah, kalo kamu engga percaya sama aku, besok2 aku bohong aja sekalian !"
Lho? Bukannya itu justru nunjukkin kalo dia emang udah bohong dari kemaren2 ???

2. Eh, saya mau nanya, kenapa sih, orang suka ngucapin selamat ulang tahun pas jam 00:00 ? Biar jadi orang yang ngucapin pertama kali? Ya seterah kalian lah, tapi sori nih ye, tapi menurut saya itu berlebihan. Bener sih itungan hari tuh mulai dari jam 00:00 tengah malem itu, tapi kalo ngomongin ulang tahun harusnya sih beda urusan. Saat orang pengen jadi yang pertama ngucapin selamat ulang tahun pada hari ulang tahun orang lain, maka satuan waktu yang dihitung itu tahun, bukan hari. Jadi, itu dihitung dari waktu orang itu untuk pertama kali keluar dari rahim ibunya alias tepat pada waktu dia dilahirkan, bukan hari dia dilahirkan. Misal dulu seseorang lahir 08 Juni jam 15:05 WIB, berarti dia baru ulang tahun pada waktu itu. Kalo ada yang ngucapin tanggal 08 Juni jam 00:00 berarti kecepetan dong?

3. Kenapa semua anak pengen jadi pemaen bola? Kenapa engga ada yang pengen jadi wasit? Padahal wasit itu juga bukan sesuatu yang lebih rendah dari pemaen bola lho. Malah lebih keren kayaknya, dia lebih cape lari2 tanpa nyentuh bola, harus jeli, harus adil, salah dikit bisa diancam suporter atau bahkan digebukin. Ada pengaruh orang tua dan masyarakat juga sih sebenernya, kita suka nganggep tinggi status tertentu. Kayanya generasi kita harus mulai ngajarin ke penerus2 kita ntar bahwa mereka punya pilihan. Bahwa mereka, mau jadi the next Bambang Pamungkas atau the next Jimmy Napitupulu itu sama kerennya.

4. Random Quote : "Some people are like clouds. When they disappear, it's a brighter day" (Sumber : lupa tuh)

Selasa, 14 Desember 2010

Review Film : Clerks



I'm not even supposed to be here today! (Dante Hicks)

Kerja itu nyenengin atau nyebelin? Bisa dua-duanya. Pada dasarnya, sistem kerja itu nyebelin, karena kita harus melakukan hal-hal yang engga menyenangkan untuk bisa memenuhi kebutuhan yang sebenernya emang udah hak kita. ok, mungkin beberapa pekerjaan itu menyenangkan, tapi tetep aja membosankan kalo tiap hari harus melakukan hal yang sama, apalagi kalau kerja ke orang alias jadi pegawai, di mana kita harus patuh sama perintah yang kadang engga masuk akal. Sebelnya akan jadi combo kalau kerjanya itu harus menghadapi pelanggan, siap-siap aja bermasalah dengan pelanggan, bisa dimarah-marahin, atau sebel sendiri sama kelakuan pelanggan yang beda-beda karakternya. Hal itu lah yang sehari-hari dialami Dante Hicks, seorang pegawai minimarket Quick Stop, kalau di sini kayak Alfamart mungkin. Dan suatu hari, adalah hari yang paling nyebelin buat dia.

Hari itu Dante engga ada jadwal kerja, tapi dia terbangun karena ada telpon dari bosnya untuk gantiin rekannya yang engga bisa masuk. Dante males banget dateng, capek dia, lagian siangnya dia ada jadwal main hockey. Tapi, pak bos ini janji dia akan datang buat gantiin Dante jam 12, jadi Dante akhirnya mau aja dateng kerja, walaupun bukan jadwalnya dia. Dante belum tahu bahwa nantinya pada hari yang dia seharusnya-engga-ada-di-sini itu akan menjadi hari yang bener-bener aneh, melelahkan, dan sangat nyebelin.

Baru mau buka toko aja rolling door-nya engga bisa dibuka karena ada orang iseng yang nempelin permen karet di lubang kunci gemboknya. Karena takut dikira tutup sama pelanggan, akhirnya dia nulis WE ASSURE YOU, WE'RE OPEN! gede banget di selembar kain putih buat dipasang di depan toko, nulisnya pake semir sepatu. Kemudian dateng seseorang yang pesen kopi dan meminumnya di situ. Pelanggan kayak gitu engga bakal jadi masalah sih sebenernya, kalau dia engga ganggu pelanggan lain. Nah masalahnya ini pelanggan sok tau banget, dengan gayanya yang udah kayak penyuluh dari Dinas Kesehatan, tiap ada pelanggan lain yang dateng beli rokok, maka si pembeli kopi ini langsung ngasih wejangan kalo rokok itu bahaya. Hebatnya, dia berhasil mempengaruhi banyak orang yang beli rokok, sampe terbentuk forum diskusi dadakan pula di situ cuma pada ngobrolin bahaya rokok, yang ujungnya para pembeli lain rame-rame beli permen karet yang harganya jauh lebih murah sebagai ganti beli rokok. Dante yang di sini posisinya adalah penjual udah pasti sebel banget ada orang-orang kayak gitu, tapi itu belum seberapa karena itu masih pagi, dan masih banyak "bahaya" yang menantinya di depan.

Dante yang masih emosi itu agak tenang saat kekasihnya, Veronica mampir ke Quick Stop sebelum dia kuliah. Obrolan mereka yang sebenernya malah biasa aja malah bikin pasangan ini ribut. Persoalannya, Dante sejak sebelum mereka pacaran sampe saat itu udah tidur sama 12 wanita termasuk Veronica, sedangkan Veronica baru 3 pria termasuk Dante, cuma, Veronica udah went down ke 37 pria.. haha... Seperginya Veronica, mari kita berkenalan dengan Randal Graves, temen baiknya Dante sekaligus penjaga RST Video Store yang letaknya sebelah Quick Stop persis. Kayaknya sih ini minimarket sama rental video masih satu manajemen. Beda banget sama Dante yang live by rules, Randal ini cueknya kebangetan.

Dante selalu yakin bahwa "title dictates behavior", jadi kalau penjaga toko ya harus bertindak selayaknya penjaga toko, harus ramah, melayani pelanggan dengan baik, senyum, sopan. Randal engga percaya kayak gitu, dia memilih untuk bertindak seenaknya. Telat dateng kerja itu bukan hal yang bikin dia merasa bersalah, pas telatpun dia masih sempet-sempetnya godain pelanggan yang lagi antri mau minjem film dengan pura-pura mau pinjem film yang sama, pura-pura sama-sama lagi nungguin penjaga rental yang telat, dan ngajak taruhan siapa yang bakal dapet pinjem film itu. Randal juga seenaknya engga mau melayani pelanggan yang tanya film mana yang lebih bagus di antara dua film, pun saat dia gantiin Dante jaga Quick Stop, dia cuek aja melayani pelanggan sambil baca koran, itu bikin dia engga sadar kalau dia menjual rokok pada gadis kecil usia 5 tahun. Karena sebenernya Dante yang jaga Quick Stop, Dante lah yang kena denda dari pemerintah karena dikira dia yang melakukan itu. Dan yang paling asik, kalau ada penjaga rental video yang pinjem video ke rental lain itu kayaknya cuma Randal.. Haha..



Bego emang keliatannya, tapi Randal selalu punya argumen untuk setiap tindakan "asal" yang dia lakukan. Randal berhasil bikin Dante mengakui bahwa pekerjaan mereka itu sebenernya asik, yang bikin engga asik itu sebenernya pelanggannya. Bukan semua pelanggan sih, cuma misal, pelanggan yang nanyanya engga jelas, engga rinci, tapi harus dapet barang itu, atau nanya hal yang sebenernya tu gampang banget ditemui jawabannya. Dalam kasus Randal, ada yang nanya dimana rak film-film new release, saat dia berada di depan rak itu! atau dalam kasus Dante, ada yang nanya berapa harga suatu barang diskon, saat dia berdiri dibawah tulisan gede banget yang nyantumin harga barang itu. Hahaha... saya sering banget nih dulu waktu jaga warnet dapet pelanggan-pelanggan kayak gini, mereka engga bodoh sih, cuma mereka itu males banget memperhatikan sesuatu yang udah jelas banget. Dengan kecuekan dan argumen-argumen gilanya, saya bisa bilang Randal udah berhasil jadi salah satu daya tarik utama yang bikin film ini punya penggemar-penggemar fanatik kayak saya. Randal ini kayak semacam superhero's sidekick buat Dante yang bikin film lebih hidup, tapi Randal lebih keren daripada Robin-nya Batman.

Di Clerks engga cuma ada Dante sama Randal. Di depan Quick Stop dan RST Video Store itu ada Jay dan Silent Bob. Dua sahabat yang jualan narkoba eceran. Jay, orangnya kurus ngomong mulu, ngomongnya jorok pula. Engga beda jauh sih sebenernya sama Randal, dua-duanya hobi ngomong kata-kata yang temanya kelamin. Sedangkan rekannya Silent Bob orangnya gendut dan justru diem melulu, lebih sering pake gerakan atau ekspresi muka buat nanggepin pertanyaan orang lain. Sepanjang film ini, Silent Bob cuma ngomong satu kalimat, tapi maknanya besar dan berpengaruh besar buat Dante. Sambil nunggu pelanggan, mereka paling seneng nyetel Boombox sambil joget-joget. Selain itu masih ada Caitlin, mantan kekasih Dante pas SMA yang masuk juga dalam cerita dan nantinya memberi dan diberi banyak kejutan dan hal-hal menarik di Quick Stop.

Film debut Kevin Smith ini pada masanya -dan sampai saat ini- berhasil mendapat tempat di banyak hati para penonton film. Film ini kalau saya intinya orang kerja dan segala permasalahan yang dihadapinya, nah, di film ini adalah mereka yang kerjaannya jadi clerks. Saya nontonnya film ini pertama kali sebenernya udah berbulan-bulan yang lalu saat saya masih jadi operator warnet, dan situasi itu yang bikin film yang emang dasarnya udah asik ini jadi lebih keren. Saya dalam hati bilang "wah iya tuh, gitu emang" waktu Randal mulai ngeluarin teori pelanggan yang menyebalkan-nya. saya ngerti banget malesnya Dante bangun pagi buat buka Quick Stop, dan hal-hal lain yang terjadi hari itu termasuk lampu toilet Quick Stop yang rusak. Sederhananya, ada keterkaitan antara saya dan Clerks karena saya seorang clerk. Kalau kamu pengen ngerti susahnya jadi clerks, tonton aja film ini, keliatannya gampang tinggal melayani pembeli sebaik mungkin, tapi engga gitu. Dan asal tau aja, hanya karena kami melayani anda, bukan berarti kami senang dengan anda, itu cuma tuntutan profesi.. haha.. Dan Clerks waktu itu berhasil bikin saya sangat penasaran hingga akhirnya membawa saya ngumpulin (baca: download) karya-karya Kevin Smith yang lain kayak Dogma, Mallrats, Clerks 2 dan lainnya. Ternyata emang film pertama itu sekaligus film terbaik dia, seengganya menurut pendapat saya.

Kelebihan film ini adalah dialognya, Kelebihan ini juga jadi hal yang nyebelin sebenernya, soalnya sepanjang film saya jadi lebih konsen baca subtitle daripada ngeliatin gambar, padahal ini film, motion picture, jadi kita harus nonton gambarnya. Mau diliat apanya? gambarnya aja item putih burem gitu, udah gitu kekonyolan teknis masih ada kayak ada bayangan kameramen keliatan lagi ngesyut gambar di kaca. Lokasi adegan juga cuma minimarket rental video. Akting juga biasa aja. Tapi dialognya, dialog-dialognya bener-bener cerdas, bikin engga bosen setengah jam nonton orang ngobrol doang. Ini film komedi, jadi dialognya ya yang bikin kita ketawa, minimal senyum, dan itu sangat berhasil. Obrolannya sebenernya biasa aja, kayak kita-kita kalau lagi ngobrol sama temen, atau rekan kerja, atau orang-orang yang baru ketemu, kadang ngobrol serius kadang hal-hal remeh temeh, ngobrolin film, berita, gosipin temen dan ngomong kadang jorok. Mungkin justru itu yang bikin penonton suka, karena seolah sedang ikut ngobrol. Beneran deh, ini salah satu film paling lucu yang pernah saya tonton, dan belum bosen saya tonton walaupun udah 3 kali nontonnya, dan jelas masuk ke salah satu film pada daftar film-film yang saya favoritkan. Film yang sangat saya rekomendasikan.

Clerks on IMDB

Minggu, 04 Juli 2010

Perampokan Bank Itu Keren

Dulu, waktu mau daftar kuliah, saya dihadapkan pada pilihan-pilihan jurusan. Saya yang waktu itu masih sangat muda emang tipikal remaja engga jelas yang hidupnya datar aja, engga punya minat atau ketertarikan yang sangat pada suatu hal. Imbasnya, saya dulu pilih jurusan berdasarkan saran orang tua dan logika ngawur anak 17 tahun. Saya pilih jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang dengan pertimbangan bahwa passing grade-nya rendah dan untuk nantinya yang namanya sarjana ekonomi itu akan gampang dapet kerja. Alasan yang masih bisa diterima sebenernya.

Menurut anggapan yang beredar di masyarakat itu kan pilih kuliah itu harusnya sesuai minat, biar kita seneng melakukannya dan hasilnya memuaskan baik secara akademis maupun kejiwaan. Tapi dulu saya mah belum kenal kalimat begituan, kalaupun saya ngerti, kan saya engga punya minat, jadi ya ambil jurusan yang kira-kira bisa dimasuki aja lah. Akhirnya saya emang berhasil masuk ke Ekonomi Pembangunan Unversitas Negeri Semarang. Salah jurusan? engga juga. Mungkin saya engga menyerap banyak ilmu ekonomi di situ hahaha.. tapi saya dapat pengalaman berinteraksi dengan orang, penyikapan terhadap situasi tertentu, dan cara menjadi ganteng. Hidup itu engga pernah sia-sia.

Sekarang saya udah lulus kok masih males cari kerja ya? Uh! Lowongan yang saya temui baru seputar, marketing, administrasi, dan rekan2nya. Belum ada yang menarik, mungkin saya aja yang terlalu milih-milih, padahal udah tau fresh graduate tanpa pengalaman. Emang sombong sih saya. Saya bukan tipe orang yang gampang nyesel, tapi kalo liat banyak kerjaan yang cukup menarik itu butuh IP tinggi dan kemampuan-kemampuan khusus, rasanya agak nyesel juga dulu engga mengusahakannya. Tapi berhubung saya orangnya engga nyeselan, jadi ya biasa aja sih, banyak kerjaan lain, tapi ya itu belum ada yang menarik. Kalau kata orang sih, yang penting itu kita bisa menikmati pekerjaan jadi bisa memberi dedikasi dan kontribusi maksimal pada pekerjaan itu dan bagi diri kita sendiri.

Banyak kolega saya yang sekarang menempuh jalan yang sudah terprediksi sejak awal kuliah. Kerja di bank. Profesi yang masih jadi harapan banyak orang, bergengsi, banyak duit. Katanya. Eh, biasanya syarat lamaran kerja itu kan ada ya, poin : berpenampilan menarik. Ini susah nih. Engga adil kalau orangnya pinter tapi engga menarik. Padahal kita semua tau kalau "menarik" itu relatif. Termasuk kerja di bank. Pegawai-pegawai frontliner biasanya ganteng-ganteng sama cantik-cantik. Walau kata cantik buat saya udah mentok di sesuatu, tapi ya, emang pegawai bank itu cantik-cantik. Menipiskan peluang banyak lulusan untuk turut serta berkarier di bidang tersebut. Tapi sejak dalam bekerja itu yang penting totalitas, dedikasi dan perasaan nyaman untuk melakukannya, maka semua orang masih bisa mewujudkan mimpinya untuk berkarier di bank. Tidak harus jadi teller yang harus ramah, atau manager area yang penuh tanggung jawab. Wujudkan mimpi anda berkarier di bank dengan menjadi perampok bank.

Image and video hosting by TinyPic

Q : Serius?
A : Engga. Tapi seterah anda mau menanggapinya gimana.

Hahaha.. engga jelas nih postingan nulis apa. Tapi yang jelas, perampokan bank itu adalah salah satu kejahatan yang paling keren. Untuk merampok sebuah bank, perlu ada strategi yang sangat matang sebelumnya. Analisis bank yang dipilih untuk dirampok, siapa saja anggota tim yang direkrut, bagaimana metode dan cara perampokan, antisipasi hal buruk, dan rencana pasca perampokan. Di dalam prosesnya perampokan bank tu keren lho, ada dua jenis, pembobolan dan perampokan langsung. Pada pembobolan yang penting adalah bagaimana mengambil uang dan barang di bank tanpa ketahuan pas ambilnya, sedangkan dalam perampokan langsung, ada penerapan taktik dan strategi, ada drama penyanderaan, negosiasi dengan pihak kepolisian, dan teknik meloloskan diri. Sukur-sukur kalo berhasil lolos sebelum polisi dateng.

Pokoknya perampokan bank itu salah satu kejahatan yang paling keren. Perampokan bank juga salah satu kejahatan yang buat saya engga terlalu jahat.. haha.. sama aja sih jahat tapi gini deh : Orang-orang yang merampok di bank terutama adalah orang-orang kaya, ya iyaalaah kalau buat makan aja susah gimana mau nabung, kayak saya. Dalam ekonomi kerakyatan, kesejahteraan itu seharusnya di distribusikan secara merata, dengan mengambil harta orang kaya sedikit udah cukup mendukung program pemerataan kesejahteraan. Makanya kalau pada mau ngerampok bank, pilih bank yang bonafid, jangan bank cabang pembantu yang nasabahnya pedagang dan nelayan. Ini selain karena yang nabung di situ orang-orang kaya, juga biar kamu terkenal, masuk tipi. Pada perampokan bank, nasabah juga tidak langsung merasakan kerugian, karena biasanya bank yang akan menanggung kerugian itu, nasabah mah taunya tabungan/simpanannya utuh. Rasanya cukup adil kalau kita liat ketidakadilan bank yang menerapkan biaya administrasi dan potongan gila-gilaan untuk penyimpanan dan setiap transaksi kita. People should take revenge! Haha...

Tapi tetep aja kejahatan kan? Emang. Saya engga bilang ini bener kok, cuma mengkaji lebih dalam saja mengenai hal ini. Jahat mana sama korupsi sambil tidur tanpa malu?

Bagi yang berminat buat ngerampok bank, jangan lupa direncanakan dengan matang. Banyak-banyak baca buku, koran, berita-berita perampokan bank, dan nonton film-film tentang perampokan bank. Saya ada beberapa saran film nih yang bisa kalian tonton :

Dog Day Afternoon (1975)
Al Pacino, John Cazale
http://www.imdb.com/title/tt0072890/



Inside Man (2006)
Denzel Washington, Clive Owen
http://www.imdb.com/title/tt0454848/




How To Rob A Bank
Nick Stahl, Erika Christensen, Gavin Rossdale
http://www.imdb.com/title/tt0762104/




The Bank Job (2008)
Jason Statham, Saffron Burrows
http://www.imdb.com/title/tt0200465/



Masih banyak sebenernya film-film tentang perampokan bank, masih ada Going By The Book, High Life, dsb. Tapi film-film di atas dan sedikit film-film lain itulah yang udah saya tonton dari film-film bertema ini. Secara engga sadar, ternyata saya cukup banyak menonton film-film perampokan bank, dan mungkin ini salah satu tema favorit saya. Mungkin setelah beberapa kali menonton, saya sampai pada kesimpulan yang udah saya tulis diatas, perampokan bank itu keren! Saya jadi suka dan terus cari film-film seperti ini.

Postingan ini engga bilang perampokan bank itu baik kok, engga juga ngasih cara-cara untuk merampok bank. Kalau ada yang merampok bank setelah membaca tulisan ini, itu di luar tanggung jawab penulis. Cukup lah saya mempertanggungjawabkan kegantengan saya ini. Tapi kalau ada yang emang jadi mau merampok bank ya gapapa sih, seterah, urusannya sendiri-sendiri. Kalau engga berani merampok bank, kamu masih bisa ngelamar kerja di bank, atau kalau engga pengen atau pengen tapi belum keterima, kamu masih bisa nonton film-film tentang perampokan bank.

Karena perampokan bank itu keren!!

Kamis, 20 Mei 2010

IPMFOMKWSMTWMMKToY

Baiklah kalau saya memaksa, ayo nulis lagi. Sebenernya bingung juga mau nulis apa. belakangan saya kehilangan mood untuk menulis, entah emang engga ada bahan pembicaraan, bingung nulisnya gimana atau males aja, ah, saya benci alasan males. Padahal kalau saya mau, banyak juga yang bisa ditulis disini. Ya, sejak saya resmi tidak lagi menjadi mahasiswa -yang bahkan belum saya ceritakan disini- saya malah banyak kegiatan. Tapi ya itu, kegiatannya khas pengangguran, piknik, nonton film, berinteraksi dengan banyak rekan alias kelayapan, sama kadang-kadang mandi.

Bisa jadi saya engga punya semangat nulis karena pikiran saya terlalu tersita pada beberapa hal, baik yang penting maupun yang engga penting. Tapi kenapa hal-hal yang dipikirkan itu engga ditulis aja? engga tau.. hehe.. pokoknya males aja. Jangankan blog ini yang kudu nulis, blog satunya aja yang sharing mp3 aja engga di apdet, padahal kan tinggal copy paste aja.

Kalau kata orang, menulis itu harus jujur. Jadi buat saya kalau emang lagi engga pengen ya jangan dipaksa, ntar lecet. Kalau pengen tapi engga bisa juga jangan, apalagi kalau cuma biar blognya keliatan selalu diperbaharui. Lalu, kenapa sekarang ini nulis? Iya, bingung juga jawabnya. Sekarang saya nulis sih walaupun engga ada ide, ya saya menulis tentang saya tidak punya ide, saya nulis walaupun engga ada semangat, ya saya menulis bahwa saya tidak punya semangat untuk menulis. Blog bukan tugas mengarang pelajaran bahasa Indonesia.

Ah, saya jadi inget dulu pertama ngeblog awal kuliah. Hihihi.. blognya masih ada tapi jangan dibaca deh. Dulu saya semangat sekali ngeblog, segala kegiatan ditulis semua, dari yang lucu, engga lucu, engga lucu tapi dipaksakan menjadi lucu, engga lucu tapi emang ditulis tanpa niat biar jadi lucu. Blog saya yang dulu emang blog lawak, kalau dulu itu adalah blog lawak karena saya merasa bahwa hidup saya lucu dan dulu saya masih terlalu kagum pada si kambing itu sehingga gaya penulisan juga ikut terpengaruh, disamping memang saat itu saya masih sangat muda dan hidup saya ya emang banyak kejadian lucu, setidaknya bagi saya saat itu. Kalau sekarang, blog lama itu menjadi blog lawak karena kalau saya baca saat ini, saya engga habis pikir kok bisa ya dulu saya nulis hal-hal seperti itu dengan cara seperti itu.. haha.. but yeah, I was so young. Mungkin 10 tahun lagi saya ketawa guling-guling kalau baca tulisan saya sekarang, mungkin 20 tahun lagi saya lebih ketawa kalau baca tulisan saya 10 tahun lagi.

Saya lupa pertama ngeblog tuh tau dari mana, yang jelas saat itu blog baru saja marak, walau belum sebanyak sekarang, ya udah banyak sih, tapi setidaknya di lingkungan saya hidup masih sangat jarang. Mungkin satu fakultas cuma saya.. haha.. engga dink, cuma saya yang engga tau aja dulu siapa aja yang ngeblog. Pokoknya dulu saya paling keren deh, punya blog sendiri. Sekarang, blog saya paling cupu hihi..
Seru juga dulu banyak temen-temen blogger yang sekarang udah pada ilang, ada yang masih bahkan lebih serius, ada yang blognya masih ada tapi terakhir posting bertahun-tahun yang lalu, ada yang blognya udah bener-bener ilang. Diam-diam saya kangen temen-temen blogger saya jaman dulu itu.

Udah ah, pada dasarnya tulisan ini saya fungsikan sebagai pemicu saja, biar mood nulis ada lagi. Engga jelas nulis apa emang, dan engga perlu dibikin jelas.

Senin, 26 April 2010




...............................
ini yang punya blog niat engga sih, udah 3 bulan engga posting
...............................



Sabtu, 23 Januari 2010

Seri Bersenang - Senang : Piknik ke Lawang Sewu dan Tugu Muda

Beberapa bulan yang lalu dan hari-hari berikutnya ada suatu hal yang sudah lumayan lama mengendap di pikiran saya, yaitu keinginan untuk sesekali lepas dari rutinitas yang mulai terasa membosankan. Ya, saya ingin rekreasi! Hahaha.. Cukup mengherankan sebetulnya, saya yang sudah 6 tahun lebih tinggal di Semarang untuk mencari gelar belum hafal jalanan Kota Semarang, belum pernah ke tempat-tempat tujuan wisata utama di Semarang pula. =.='

Bagaimana nanti saya menyambut kedatangan misalnya orang tua saya, atau teman luar kota, atau Kris Roe mungkin yang main ke Semarang? Pengalaman membuktikan, waktu seorang teman datang dari Jogja, saya kebingungan memilih tempat untuk dia kunjungi. Akhirnya saya bawa saja dia ke satu-satunya tempat wisata di Semarang yang sudah pernah saya kunjungi waktu itu, Gedong Songo. Sungguh bukan tuan rumah yang baik. Hehe..

Akhirnya dengan pertimbangan itu dan keinginan kuat untuk sejenak lepas dari rutinitas yang itu-itu saja, dengan mengajak beberapa teman yang berpikiran sama (dan saya kira bernasib sama :p) kami memutuskan untuk berwisata. Penginnya sih rutin, seengganya sering2 lah piknik, tapi untuk piknik pertama daripada bingung kami pilih tempat yang sangat wajib sudah didatangi kalau kita di Semarang, tapi belum kami datangi. =.='yaitu Lawang Sewu.

Lawang Sewu dipotret dari Tugu Muda

Enam tahun lebih di Semarang saya belum pernah ke Lawang Sewu? Hehehe... No Comment!
Setelah melalui perdebatan yang panjang dan berdarah-darah, diputuskan untuk acara itu diadakan pada Minggu, 17 Januari 2010 malam. Tadinya sih pengen pagi, tapi salah satu temen usul, "Engga seru to ya, masa ke Lawang Sewu siang-siang?" Kami pikir ada benarnya juga, okelah, malem aja kalau gitu. Eh giliran harinya tiba, si kawan yang usul itu malah sedang berada di luar kota! Udah usul, mangkir. Huh! Malam itu, yang berangkat ada 6 orang yang biasa saja kecuali yang nulis, menggemaskan.

Magrib sebelum berangkat, Sekaran ujan. Damn! rencana batal ini acara! Tidak jadi ke Lawang Sewu sih engga masalah sebenarnya, cuma teman2 saya membuat kesepakatan sepihak yang cukup merisaukan, kalau batal piknik malam itu apapun alasannya saya harus menanggung biaya makan malam mereka semua! Edan tenan! Untung saja sekitar jam 7 hujan mulai reda dan hanya menyisakan gerimis kecil. Saya tanyakan teman-teman ternyata mereka setuju untuk tetap berangkat. Setelah di pom bensin Sampangan sempat menunggu seorang teman yang tertinggal, kami sampai di Lawang Sewu sekitar jam 8 malam.

Setelah parkir, pipis dan bayar karcis masuk, kami mulai perjalanan menjelajahi Lawang Sewu di temani seorang Guide yang masih muda dan lumayan lucu, sayang saya lupa nanya nama sama nomer hapenya. Hahaha.. Berdasarkan panduan dari mas-nya itu, Lawang Sewu itu dulunya adalah bangunan Kantor Kereta Api, dulu apa sih namanya? pokoknya yang sekarang PT. KAI itu lah. Berhubung saya lupa sama yang dijelasin mas-nya, nih saya kutip aja dari Om Wiki ya :D
Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu). Read More...

Di sana, kami diajak ke ruangan-ruangan kosong yang keren-keren sebenarnya hanya sayang kurang perawatan. Di ruangan pertama setelah naik tangga, mas Guide bilang kalo uniknya dari Lawang Sewu adalah ruangan-ruangan di sana selalu terhubung satu sama lain, jadi ada connecting door-nya. Saya heran ruangan-ruangan seluas itu kalau dulu dibuat kantor apa engga sisa ruangan banyak banget ya? Selanjutnya kami di bawa ke ruangan lain seperti ballroom yang sangat luas (atau panjang lebih tepatnya,ke loteng yang sangat menakjubkan karena di sana kami ditunjukkan betapa konstruksi bangunan ini (dan bangunan bangunan kuno Belanda pada umumnya) sangat mengagumkan, isinya kalo engga baja ya kayu jati. Kalo jaman sekarang butuh biaya berapa buat bikin bangunan kayak gitu.

lagi dijelasin sama mas guide :p

Lawang Sewu itu kan sudah terlanjur terkenal dengan cerita-cerita mistisnya. Nah kata mas guide-nya itu ya, di loteng itu justru tempat yang paling banyak hawa ghaibnya, cuma banyak orang yang taunya tempat terseram itu di penjara bawah tanah. Saya tidak bisa membuktikan keduanya karena waktu di loteng saya merasa biasa saja, sedangkan waktu mau masuk ke bawah tanah ternyata sedang tutup karena banjir. Kalau saya enga salah inget memang seperti konstruksi bangunan lama Belanda, di Lawang Sewu ruangan bawah tanah merupakan tempat penampungan/penyaluran air, dan saat hujan seperti kemaren, ruangan bawah tanah cenderung sering banjir. Ah! padahal anak-anak udah pada pengen banget tuh masuk situ, engga afdol ke Lawang Sewu tapi belum ke bawah tanah. Tapi mau gimana lagi? =.='

salah satu bagian Lawang Sewu

Setelah cukup berkeliling Lawang Sewu dan mengambil beberapa gambar, kami melanjutkan bersenang-senang di Tugu Muda yang letaknya tepat di depan Lawang Sewu. Tugu Muda adalah sebuah monumen yang dibangun untuk memperingati pertempuran selama lima hari di kota Semarang dari tanggal 14-19 Oktober 1945. Di sekitar Tugu Muda terdapat beberapa bangunan penting seperti Wisma Perdamaian -yang merupakan Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Gedung Pandanaran -yang merupakan kantor milik Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Gedung Lawang Sewu -yang merupakan bekas kantor PT Kereta Api Indonesia (KAI), Gereja Katedral dan Museum Mandala Bhakti. Berhubung di Tugu Muda tidak ada pemandu wisata, maka yang kami lakukan disana apalagi kalau bukan sesi pemotretan. Hahaha..

Tugu Muda, motonya miring haha..

Tugu Muda difoto dari Lawang Sewu

The Nightwalkers

Setelah puas foto-foto dan bercengkrama di Tugu Muda, sekitar jam 11 malam kami memutuskan untuk kembali ke Sekaran. Memang tidak begitu lama kami bersenang-senang di dua tempat itu, tapi mengingat waktu sudah cukup malam dan esok harinya adalah hari Senin waktu kami semua beraktifitas penuh, maka kami pulang saja. Menyenangkan ternyata meluangkan sedikit waktu untuk datang ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya bersama teman-teman dekat walau hanya sebentar, lepas dari rutinitas. Rencananya sih, acara piknik beginian akan sering digelar, sementara seputaran Semarang dulu lah. Nanti kalau udah berlangsung, saya kasih laporannya lagi. Hahaha...

Foto-Foto yang lain klik di sini