Senin, 05 Mei 2014

Sedikit Cerita dari JKT48 Love in Concert Semarang




Sebagai penikmat suatu unit idola lokal yang jaraknya ratusan kilometer jauhnya dari pusat aktivitas mereka, kita engga bisa setiap saat datang menyaksikan penampilan mereka. Biaya dan waktu yang dikeluarkan akan terlalu merepotkan. Jadi pasti kita senang sekali saat pada akhirnya ada momen di mana mereka lah yang datang ke kota kita. Begitu juga saya yang sejak melibatkan diri dalam semua keceriaan ini baru bisa nengokin adek-adek di Senayan 3 kali pun akhirnya memutuskan buat ngisi lembar presensi konser bertajuk JKT48 Love in Concert Semarang. Sempet kecewa sih pas tau member favorit saya (siapa hayoo?) terpaksa engga bisa ikut dateng karena ada acara keluarga yang lebih penting. Tapi untungnya ini tetap team J yang dateng, jadi daripada kecewa ya udah, mumpung engga ada oshimen saya mau Veranda-Veranda-an dulu aja (jangan diaduin ya – ah, kayak diinget aja) hhe.  Lagipula mumpung mereka yang datang ke sini dan saya juga punya misi untuk membawa seorang teman ke jalan yang benar, jadi engga ada alasan buat absen. Maka dengan bermodalkan kuitansi untuk dua tiket kelas festival dan hati yang bersih, Sabtu, 3 Mei 2014 kami naiki motor tua ke suatu tempat di pinggiran kota Semarang. 

Saya sampai di venue jam setengah 6  lebih banyak. Setelah tuker tiket sama (nganter temen) shalat magrib, kita  s  a  n  t  a  i   dulu di depan gedung karena informasi open gate jam 6 sore ternyata engga sesuai sama di lapangan. Lama juga sih molornya, entah member belum siap atau sengaja diundur supaya fans engga nunggu terlalu lama di dalem. Kurang lebih jam 7 pintu akhirnya dibuka. Saya engga tau situasi di pintu VIP, tapi engga adanya jalur antrian dan pintu masuk yang lebarnya hanya sekitar 1,5 meter di pintu festival bikin jadi agak kurang nyaman antriannya. Pas udah masuk ke dalem ruangan sih oke. 

Engga tau ya, emang standard konser jeketi begini kan ya, baru ini nonton mereka di konser. Pertama, yang jelas pendingin udara memadai jadi walau banyak orang di dalem engga kerasa gerah sama sekali. 
Terus, tata letak enak sih kata saya. Area penonton mirip kalo teater. Jadi kelas festivalnya yang berdiri itu letter U kayak orang WL, nah yang VIP duduk di tengah. Jadi kalau pengen ngeliat member dari deket pilih aja posisi di samping kanan atau kiri deket stage. Saya karena  kalo di bagian situ takut leher sakit gara-gara kebanyakan nengok samping dan karena pengen denger suara dengan lebih sempurna (eh, ngefek engga sih?) jadi pilih di belakang aja. Jauh sih tapi kan di tengah, lebih enak aja nikmatin shownya. Lagian ternyata engga terlalu jauh kok festival belakang itu, dan bagusnya lagi panggungnya cukup tinggi jadi keliatan lumayan jelas walau saya berdiri depan FOH. Setelah nunggu sebentar, mungkin cuma 15 menitan, Kageana dibacakan Sonia Natalia dan selang beberapa menit Overture berkumandang tanda pertunjukkan di mulai.

Lantas gimana dengan shownya sendiri? Bentar, minum dulu. 

Sebelum show, salah satu yang saya khawatirkan mungkin pemilihan lagu. Kita kan tau JKT48 udah punya sekian banyak lagu, untuk konser yang cuma 19 lagu bisa aja yang kepilih lagu-lagu yang kita kurang suka, atau kalaupun suka bisa aja flow setlistnya engga sip. Gimana sih jelasinnya? Ya gitulah ngerti kan ya. Nah, ternyata lagu yang dibawain ternyata melampaui perkiraan (lebih tepatnya harapan) saya. Lengkap juga sih kombinasi dari lagu-lagu single, setlist Pajama Drive, RKJ sama DnT ada. Yang engga ada itu lagu-lagu setlistnya team KIII. Ya iyalah. 

Empat lagu pertama diambil dari single-single awal mereka plus lagu kelima, River yang otomatis sudah dikenal semua penonton bagus banget ditaruh di depan buat membangkitkan semangat. Seolah memberi kesempatan para penonton yang kebanyakan sangat jarang bertemu oshinya karena kondisi jarak ini untuk melampiaskan rasa rindu mereka dengan ngechant dan mengayunkan lightstick mereka.  
Sedikit kekecewaan mungkin di beberapa lagu awal sound sempat bermasalah, beberapa speaker engga keluar suara, kurang enak aja di kuping. Mbleret. Untung engga berlangsung lama dan mulai unit song soundnya udah normal. Oke, overture, group song blablabla, MC blablabla akhirnya masuk ke unit song.

Urutannya ntar aja biar lengkap sekalian ya, tak nyontek live report orang dulu, saya agak lupa. Berhubung saya lagi Veranda-Veranda-an saya nunggu unitnya dia dong. Berpasangan dengan Frieska  dia dapet Temodemo no Namida ternyata saudara sekalian. Emang karakter dia tipe bawain lagu-lagu ngondoy begini sih ya, jadi pas dan di sini kelihatan sangat mempesona. Subjektif sih hhe. Tapi emang mengesankan, lagipula ini pertama kalinya saya liat lagu ini live karena saya dulu tidak pernah berkesempatan nonton setlist Pajama Drive. Alhamdulillove yah, Kuroi Tenshi (favorit saya dari RKJ) dan Nage Kissu de Uchi Otose (favorit saya dari DnT) juga ada. Ini yang saya bilang kenapa saya suka setlist konser ini, mulai unit sampai selesai hampir semua lagu yang saya harapkan dibawain, ternyata dibawain. Kesampaian juga ngeliat lagi ada itu dua part koreo yang sangat keren di Kuroi Tenshi dan ngeliat member-member emesh berlarian sambil nembakin machine gun lagi di Nage Kissu. Menyenangkan.

Saya bisa bilang memunculkan lagu-lagu dari setlist DnT yang masih berjalan adalah strategi yang tepat. Selain memuaskan keinginan orang-orang seperti saya yang bosen dengerin single, hal ini bisa jadi cara buat mengundang lebih banyak penonton yang tertarik untuk berkunjung ke teater. Lumayan kaget sih lagu dari DnT cukup banyak yang dibawain. Dan bagaimanapun saya mengharapkannya, saya engga pernah menyangka apa yang datang setelah unit song. 

Ya, Allah. Seifuku ga Jama wo Suru. Ya, Allah.
Lagu kibas rok di konser. Saya sungguh tidak menyangka.
Sejenak saya nyesel engga ambil VIP A.  
Kemudian mulai melafalkan dzikir.



Ok, kalau ini Seifuku ga Jama wo Suru berarti lagu selanjutnya..

YES! ADYTH! 

Hahaha, tuh kan dibawain juga! Saya yang engga biasanya ekspresif dan berperilaku biyayakan pun sampe loncat dan nginjek kaki mas-mas sebelah. Untung dia engga marah, jadi saya engga dislengkat waktu loncat-loncat lagi pas Veranda nyelipin beberapa baris bahasa Jawa di monolognya. Aduh malu-maluin banget mungkin kalo ada yang memperhatikan saya lepas kontrol saking girangnya. Liat Veranda ngomel-ngomel di kota sendiri pake bahasa sendiri. Ya Allah, sampe lupa punya oshi yang engga bisa dateng. Maafkan saya. :( 

Huft. Sudah-sudah, jadi gesrek sendiri inget-ingetnya hha. Lagu-lagu abis itu sama lengkapnya engga usah saya ceritain ya, terlanjur lemah ini, Pak. Lagian lagu lain seperti biasa dibawakan dengan keren, tapi ya udah gitu aja.  Seperti biasa. Bukan biasa yang biasa, tapi luar biasa seperti biasanya. 

Ok, jadi setlist lengkapnya konser kemarin itu gini:
M00.  Overture
M01.  Aitakatta
M02.  Kimi no Koto ga Suki Dakara
M03.  Baby, Baby, Baby
M04.  Ponytail to Shushu
M05.  River
M06.  Pajama Drive (Shania, Rica, Delima)
M07.  Temodemo no Namida (Veranda, Frieska)
M08.  Kuroi Tenshi (Melody, Kinal, Jeje)
M09.  Shinkirou (Haruka, Sendy)
M10.  Nage Kissu de Uchi Otose (Dhike, Vanka, Gaby, Sonia, Nabilah, Ayana)
M11.  Seifuku ga Jama wo Suru
M12.  Adyth
M13.  Manatsu no Sounds Good
M14.  Koisuru Fortune Cookie
M15.  Dareka no Tameni
M16.  Flying Get
M17.  Shoujotachi Yo
M18.  First Rabbit
M19.  Oogoe Diamond

Lho, itu kan Aitakatta sampai River mah satu lagu medley ya? Ah, sama aja buat saya kedengeran sebagai 5 lagu :p

.. alias males ngedit

Hehehe, terlihat menyenangkan bukan? Oh iya, mungkin karena belum banyak yang akrab dengan DnT, penonton di beberapa lagu agak bengong dan sepi chant. Teriakan penonton ramai di lagu-lagu single. Secara keseluruhan crowdnya asik sih, lumayan kompak. Puncaknya dengan adanya project lightstick oranye dan kolaborasi dari temen-temen fans Semarang sama fans Solo bikin kertas-kertas bertuliskan #KotaKamiRinduJKT48 yang diangkat beramai-ramai oleh hampir semua penonton pas Shoujotachi Yo. Saya yang engga terlalu ngikutin kegiatan begituan harus mengakui apa yang dilakukan temen-temen fans bikin acara ini makin meriah. Penonton senang, member senang, semua senang. 



Saya pun senang. Banget malah kalo inget ekspektasi rendah yang saya siap diawal. Saya yang tadinya berasumsi teater lebih asik karena kedekatan dan kehangatannya (?) ternyata bisa SANGAT menikmati konser yang lebih unggul (?) masalah keseruannya. Kekecewaan saya atas ketidakhadiran member favorit saya juga tergantikan dengan performa seluruh member yang sangat maksimal. Kemudian, lepas dari beberapa kekurangan yang sempat saya sebutin diatas, penyelenggara pun keliatannya udah melakukan tugasnya dengan cukup baik. Ya, walaupun dari hasil stalking saya di twitter ada banyak kekecewaan dari beberapa fans karena masalah ini itu. Toh, kesalahan-kesalahan dan kritik dari para fans bisa menjadi pelajaran ketika nantinya bikin acara lagi di lain waktu. Inyinya.. eh, intinya sih JKT48 Love in Concert Semarang sukses, dan mudah-mudahan dengan kesuksesan acara ini JKT48 bisa lebih sering berkunjung ke kota ini dan kota-kota lain tentunya. Karena..

#KotaKamiRinduJKT48


Sabtu, 08 Februari 2014

REVIEW PERTUNJUKAN DAREKA NO TAMENI JKT48 (1 FEBRUARI 2014)

Sebelum nonton kemarin, pengetahuan saya akan setlist baru ini engga terlalu banyak. Saya cuma sempet beberapa kali liat versi A3 di suatu kanal youtube dan baca beberapa artikel tentang lagu-lagu yang mengisi setlist ini biar engga buta-buta amat. Selebihnya saya menolak membaca review dari siapapun yang lebih beruntung karena saya ingin dikejutkan dengan apa yang akhirnya saya liat sendiri.  Sedikit info saja, saya bukan penonton reguler teater JKT48. Show DnT tanggal 1 Februari 2014 kemarin itu baru kunjungan saya yang kedua setelah pertama kalinya saya nonton RKJ 3 November 2013 silam. Saya engga terlalu sering pula menonton video pertunjukan grup lain dalam keluarga 48 selain yang kita punya di negeri ini. Jadi apa yang saya ceritain di sini mungkin engga bisa akurat, engga bisa penuh analisis mengulas  performance para member seperti review yang kalian biasanya baca. Saya akan cerita apa yang saya ingat dan yang telah menjadi kesan sekeluarnya saya dari pintu teater

Saat pertama kali liat setlist ini yang dibawakan team A lewat youtube, saya langsung mikirnya mungkin banyak yang engga akan suka setlist ini. Entah team A yang kurang bagus menampilkannya atau pengaruh hanya nonton lewat video, yang jelas tiga lagu pertama bener-bener engga bisa saya nikmati. Mungkin saya hanya belum terbiasa saja karena beda dengan setlist-setlist sebelumnya yang lagu-lagunya kurang lebih setipe, DnT lebih beda. Di sini ada lagu dengan nuansa tradisional Jepang dan beberapa terdengar seperti musik-musik 80an. Kemudian semua terjawab saat saya menyaksikan langsung di show kemarin. Begitu overture usai dan suara genderang membuka Tsukimisou,  apa yang saya khawatirkan ternyata engga terbukti. Sumpah itu Tsukimisou versi Team J keren banget. Cara menyanyikannya bagus banget , beda aja, lebih menggetarkan. Dancenya juga oke, semangat sekali. Itu saya antara engga nyangka bakal sekeren itu sama seneng plus bangga. Sempet sedikit ngumpat juga sih jadinya.

Dua lagu setelah Tsukimisou perasaan saya masih sama, enak banget flownya. Warning agak asing intronya, lagunya juga sih. Tapi engga ada masalah dan engga ada yang terlalu menonjol untuk diingat sampai Tanjoubi no Yoru selesai dibawain. Mungkin saya terlalu menikmati pertunjukan dan masih sedikit tersesat di antara bintang-bintang, maklum baru teater kedua. Sampai sini performa mereka sebagai tim bisa lah dikasih tepuk tangan panjang. Performa per member, ya maaf saya engga bisa menilai satu per satu karena emang engga tau cara menilainya. Alasan ngelesnya sih karena sepanjang show terlalu fokus ke Beby hehe.

Mungkin agak sedikit subjektif, pada malam itu, di mata saya Beby (dan Shanju) menguasai panggung. Saya engga  ngerti gimana menilai penampilan member secara teknis, mungkin member lain tampil dengan sangat baik, tetapi sepanjang show mereka berdualah yang terlihat sangat menikmati apa yang mereka lakukan di atas panggung.  Puncaknya saya rasa ada di Nage Kissu de Uchi Otose. Di lagu yang ceria ini, dengan berlarian kesana-sini sambil menunjukkan raut muka paling jelek yang bisa mereka bikin, Beby dan Shanju keliatan sangat bersenang-senang. Apa sih yang membuat malam minggu lebih indah selain melihat member favorit bergembira di atas panggung miliknya? Secara personal, sejak itu saya tetapkan lagu ini menjadi favorit saya dari setlist DnT. Bagaikan ditembak dengan machine gun, saya sudah habis, dijatuhkan di lagu ini.

Member lain yang terlihat menarik malam itu adalah Jessica Veranda. Penampilannya di Shinkirou cukup bisa menimbulkan pertanyaan kenapa saya masih menyimpan keraguan  akan eksistensi Tuhan. Shinkirou-nya sendiri merupakan tipe lagu yang syahdu dengan kostum model gaun a la dewi Yunani  dan tata cahaya maksimal yang semakin membuat penonton larut dalam khayalan. Unit ini dibawakan dua orang. Kemarin Rica menggantikan Haruka yang sedang di Jepang. Jujur saja saya tidak memperhatikan Rica tapi sepertinya tidak ada masalah dengan penampilannya. Sangat disayangkan di lagu yang seharusnya dinikmati sambil menyebut 99 Asma Allah dalam hati ini masih ada saja penonton yang nge-chant. Bagaimanapun indahnya lagu ini dan bagaimanapun cantiknya Veranda di sini, Shinkirou mungkin memang bukan jenis lagu yang saya sukai. Saya lebih menikmati lihat dia ngomel-ngomel saat bertemu Adyth jalan sama pacar barunya.

Adyth adalah judul terjemahan dari Koike, lagu ke 10 dalam setlist Dareka no Tameni. Nama Adyth diambil dari salah satu staff JKT48 Operation Team, mungkin dipilih karena ketidakbiasaan dalam pengejaannya (lebih sering Adit atau Adith) sehingga lebih netral. Lagu yang musiknya agak latin-latin gimana ini benar-benar unik karena ada monolog panjang yang dibawakan oleh Veranda. Karena ceritanya di lagu ini Adyth sekarang sudah punya pacar baru yang cantik, isi monolognya antara menyesali diri sendiri sama ngomel-ngomel dalam hati ke Adyth. Ya, abisnya situ jahat sama Adyth sih, Ve.  Sekarang gini kan jadinya, kamu sedih melulu cuacapun jadi engga jelas. Adyth jelas bukan lagu yang pantas dilewatkan sambil livereport di twitter.

Lagu lain yang saya suka adalah Bird dan Rider, dua-duanya merupakan unit song. Titik perhatian saya di Bird hampir sama seperti kebanyakan orang,  yaitu kostumnya yang keren dan kenapa suara Cigull di sini bisa berubah jauh dari yang biasa kita bayangin. Rider, lagu bagus dengan makna dalam. Semua orang pasti sudah tau makna dari lagu ini, semua orang pasti diam termenung di part solo gitar saat semua member penampil mengheningkan cipta yang dilanjutin dadah-dadah ke bagian bangku biru tempat si Rider biasa duduk.  Oke, untuk yang belum tahu, jadi Rider adalah lagu yang dibuat dan dipersembahkan untuk seorang pengunjung setia AKB48 Theater yang pada suatu hari meninggal. Lagu sentimental yang bikin mata saya berkaca-kaca mulai baris lirik terakhir sebelum chorus pertama.

Di Rider kemarin Frieska yang engga hadir digantikan Vanka dari trainee. Sepanjang show Vanka terlihat cukup menyatu dengan kakak-kakaknya, cuman kayaknya dek Tacil  masih agak belum pede untuk berinteraksi lebih nih. Keliatan banget waktu sesi MC dia lebih banyak diem, ujung-ujungnya dia jadi bahan kejahilan. Ada satu sesi di mana tema MC-nya adalah menjawab cepat suatu pilihan.  Misal, pilih makan atau mandi? Jenong atau botak? Vanka dikasih pertanyaan oleh Ghaida untuk pilih antara dia atau Dhike. Vanka yang bingung jawabnya otomatis jadi korban keganasan kedua member tadi yang sontak mepet dia sambil setengah ngancem setengah grepe. Muka polos, bingung campur takutnya Vanka itu aduh lucu banget. Ghaida sendiri semakin membuat kita curiga sama jati diri dia yang sebenarnya setelah masih aja ngajuin pilihan ke Vanka buat pilih dia atau member-member lain, setelah di pertanyaan sebelumnya Vanka memilih Dhike.

Pas sesi MC ini, saya sedikit kecewa karena lagi-lagi belum bisa ngeliat Jeje. Kehilangan Haruka dan Jeje, sesi MC jadi sedikit garing. Untung masih ada Nabilah. Asli ini anak bandel banget keseringan main di galangan kapal mungkin. Engga member engga penonton dikomenin sama dia. Bagusnya dari MC yang engga terlalu heboh, saya jadi lebih fokus ke setlistnya. Kayak apaan aja ye, fokus.

Setelah DnT resmi diumumin jadi setlist baru ini, beberapa artikel yang saya baca menyebut Seifuku Ga Jama Wo Suru bakal jadi salah satu highlight. Ini memang lagu yang udah lama juga sih, salah satu single awal AKB jadi mestinya udah banyak yang kenal, saya sih baru denger sekali ini. Secara lagu menurut saya biasa aja, tipikal lagu-lagu 48 banget. Tapi seifukunya yang seragam sekolah berantakan sama adegan kibas roknya memang benar-benar memukau. Sesuai sih sama liriknya yang lumayan menjurus. Oh iya, coba hitung berapa kali member mendesah di lagu ini?

Natsu Ga Ichatta sama Tsuki no Katachi juga engga terlalu istimewa, so-so, macam cuman buat melengkapi setlist aja. Paling pas part Summer Has Gone jadi inget lagu-lagunya Amber Pacific, padahal beda banget lha. Sama pas Tsuki no Katachi lucu ya, itu yang setelah reff ada chant Oy! Oy! Oy! , sambil member koreonya menggerak-gerakkan tubuh bagian atas.  Lagu terakhir sebelum encore, Dareka no Tameni engga terlalu saya perhatiin, seperti biasa bukan tipe saya aja. Seingat saya sih bisa menikmati lagu ini kemarin.

Ankoru. Dulu saya kira medley song yang abis encore itu akan make antara versi team A atau versi team N, ternyata medley versi lokal pake single-single awal JKT, Aitakatta, Kimi no Koto ga Suki Dakara, Baby!Baby! Baby! – Ponytail to Chou Chou. Entah kenapa transisi antar 4 lagu ini agak kurang enak di kuping saya.  Tapi medley ini bener-bener bikin tensi naik sih. Fans dan member kerasa banget sama-sama semangat di sini, mungkin karena jadi semacam nostalgia ya. Trus, kebetulan deket tempat saya duduk ada penonton dari Jepang, kata Amos temen barengan saya, orang-orang Jepang itu ngechantnya bagus, jadi tambah asik buat kita yang ikut denger. Pokoknya medleynya membahagiakan.

Lagu terakhir Namida Uri no Shoujo saya engga ngerti. Unik juga sih lagu ini ada bagian ngerap-nya. Agak kurang suka bukan karena jelek, tetapi setelah medley bikin tensi naik tadi, masuk ke lagu ini turunnya lumayan drastis aja. Lagunya bagus cuman sepertinya kurang pas ditaruh di ujung setlist.

Oke, jadi akhirnya saya menyelesaikan show Dareka no Tameni. Itu adalah sebuah pertunjukkan yang sangat memukau. Waktu pertama kali saya dateng ke teater RKJ dulu, terus terang abis nonton saya masih sedikit merasa “gini doang, nih?”. Tetapi DnT malam itu benar-benar memuaskan. Adik-adik team J engga membiarkan saya puas dengan ekspektasi rendah yang udah saya siapkan sebelum nonton. Lagu-lagu yang lumayan beda tipenya dari RJK, dengan tema yang lebih beragam, ternyata bukan bikin saya engga bisa menikmati tetapi justru memberi pengalaman baru yang bikin engga bosen sama apa yang ditampilkan JKT48. Asik banget lah setlist ini. Mungkin saya juga belum bisa terlalu jauh menilai setlist ini, tapi apa yang saya alami malam itu cukup untuk bikin saya berencana kembali menyaksikan pertunjukan Dareka no Tameni yang dibawakan oleh JKT48 Team J. 

Jumat, 02 Desember 2011

Playlist Akhir Pekan #2

Sepertinya Playlist Akhir Pekan akan jadi kategori tetap di blog ini seperti Random Thoughts. Jadi setiap beberapa waktu tertentu saya bakal posting lagu-lagu yang pada akhir-akhir itu saya dengarkan, atau hanya saya pikirkan, atau mungkin saya nyanyikan. Dan belakangan ini adalah :

Mayoshi Yamazaki - One More Time, One More Chance


Ini lagu penutup dari film 5 Cm Per Second. Lagu bagus yang saya harap engga bakal pernah saya nyanyikan lagi.


Powerslaves - Semarang


Rasanya ini lagu yang tepat untuk menyambut diri saya sendiri yang kembali ke kota ini.


Dropkick Murphys - Worker's Song


We're the first ones to starve, we're the first ones to die
The first ones in line for that pie-in-the-sky
And we're always the last when the cream is shared out
For the worker is working when the fat cat's about

menyebalkan, ya kenyataannya emang gitu, tapi anak2 kita kelak harus kuliah sih, jadi terus bekerjalah untuk yang kita cintai.


Morrissey - Alma Matters


Saya suka sekali baris pertamanya "So : the choice I have made May seem strange to you But who asked you, anyway ?" Itu kasih saya semangat buat tetep melakukan apa yang saya yakini.


Hoobastank - The Reason


Yang aneh adalah ketika saya mikirin lagu ini dikamar kos (tumpangan), tiba2 dari kamar sebelah sayup-sayup terdengar seseorang nyetel lagu ini. Kayak di film aja.


Dewa 19 - Kangen


Kasusnya sama persis sama Hoobastank. Saya rasa emang udah disiapin sama semesta. Ini lagu waktu jaman Dewa 19 masih masuk akal.


Embrace - Gravity


Soundtrack juga sih kalo ini.

Sabtu, 05 November 2011

Review Komik : Si Gundul

Si Gundul bercerita tentang seorang bocah yang tidak memiliki rambut (sumpah ini deskripsi dari yang bikin). Karakternya digambarkan masih SMA. Agak aneh sebenernya, padahal kita semua tau kalau anak SMA itu menyebalkan dan punya selera buruk dalam segala hal. Bedanya dengan anak SMA lain, Si Gundul engga ngabisin waktunya buat hal-hal engga berguna semacam ikut Pramuka atau dengerin LMFAO sambil belajar shuffle dance-nya. Si Gundul jelas selangkah lebih keren karena lebih suka nongkrong bareng professor dan aktif dalam berbagai kegiatan. Dia bahkan berhasil masuk dalam timnas sepakbola dan bertanding melawan timnas Jepang di Piala Dunia.


Sebagaimana halnya anak seumurannya, Si Gundul sudah mulai menghadapi banyak problematika dan dinamika kehidupan yang sering engga masuk akal. Tetapi semua masalah itu jadi biasa aja karena Si Gundul selalu punya solusi yang jauh lebih engga masuk akal. Walaupun jatuhnya jadi lucu, saya rasa dia engga pernah bermaksud seperti itu. Si Gundul selalu serius dalam mengatasi masalahnya. Dia cuma lakukan apa yang menurut dia seharusnya dilakukan. Misalnya saat dia butuh inspirasi, atau saat dia merasa harus membantu pacar tercintanya ini :

Jenius!

Oh iya, Si Gundul punya pacar seorang cewe cakep bernama Helen. Jangan kaget kenapa dia bisa dapet cewe. Seperti kata dia, kadang beberapa orang emang lebih tertarik pada lawan jenis yang berperilaku sedikit menyimpang. Entah emang jodoh atau kesintingan itu menular, orang-orang di sekitar Si Gundul sama gilanya, termasuk Helen. Ini kenapa saya bilang bahwa Si Gundul "engga sepenuhnya bersalah". Biasanya justru dia yang harus ketemu lingkungan yang lebih sableng. Selain Helen, kadang muncul bintang tamu - bintang tamu seperti Profesor, seorang ilmuwan sinting yang petualangannya bersama Si Gundul bisa dinikmati dalam seri Memburu Jejak U.F.O, atau karakter-karakter dari komik lain, bahkan pernah muncul Ayu Ting Ting dan Limbad! Bener-bener cukup absurd buat bikin kita ketawa ngakak sepanjang hari.

Si Gundul hadir dalam format komik strip di mana rata-rata ceritanya habis dalam satu halaman. Ini efektif karena engga bikin pembaca bosan dengan cerita yang bertele-tele. Orang yang bukan maniak komik pun lebih nyaman baca yang formatnya kayak gini. Jadi, Si Gundul lebih bisa diterima semua orang. Dari segi gambar, Si Gundul punya ciri khas sendiri sesuai karakter gambar pembuatnya. Komik ini engga repot-repot niru gaya komik lain, termasuk gaya jepang2an yang cukup banyak diadopsi komikus lokal.

Si Gundul bukan komik yang pretensius. Lawakannya begitu jujur tanpa berusaha keliatan pintar dan/atau kritis. Saking jujurnya, Si Gundul banyak menampilkan guyonan-guyonan jayus, humor engga penting dan dagelan kuno yang sebenernya kita udah pernah tau. Lelucon model begitu kan ada 2 jenisnya, yang satu adalah yang ditanggepin orang dengan "apaan sih?" sambil berlalu pergi, dan yang satunya itu yang ditanggepin orang dengan "apaan sih?" sambil ketawa. Si Gundul termasuk yang kedua.

"apaan sih?"

Asli, jangan tertipu sama review saya yang serius dan terkesan kaku ini. Saya emang engga bisa ngelucu. Kalau review ini engga cukup buat bikin kalian penasaran, emang udah seharusnya kalian berhenti baca review ini dan langsung kunjungi halaman facebook-nya di http://www.facebook.com/heyndul.

Nah, kalau kalian rasa link-link yang udah saya kasih di atas terlalu banyak memberi spoiler, jangan kuatir. Masih banyak cerita lainnya tuh. Lagipula, Si Gundul kan baru edisi 3. Dengan kreativitas dan produktivitas kreatornya yang tinggi, Si Gundul akan rajin keluar. Bahkan gosipnya mau dijadiin buku, kita tunggu aja beritanya.

Jadi, kalau bos kalian mulai terasa menyebalkan atau pacar kalian mulai lebih terasa sebagai gangguan yang bikin stress, Si Gundul akan menyelamatkan hari kalian.

Download :
Si Gundul Part 1
Si Gundul Part 2 - Memburu Jejak U.F.O
Si Gundul Part 3
Si Gundul Edisi Bandar Pelangi
Si Gundul Edisi Eceran (Download per halaman sendiri yaaa)

Pages :
Facebook Page
Blog yang bikin Si Gundul

Sabtu, 22 Oktober 2011

Playlist Akhir Pekan

Akhir pekan itu jelas tentang sepakbola. Tapi kenapa di playlist ini engga ada lagu tentang bola? Saya juga heran sebenernya.

Placebo - Kings of Medicine


Saya baru2 aja sih tau lagu ini (kasian ya?) dari twit seseorang, ternyata asik juga. Lebih seringnya sih saya suka lagu dari liriknya, terutama yang bisa dipas2in sama situasi yang saya alami. Nah, lagu ini liriknya bagus sih, cuman kayaknya jauh dari saya, gimanapun lagunya emang sip banget.


Beady Eye - The Beat Goes On


Tau lagu ini dari One Stop Football. Ini band barunya Liam Galagher, dan yang saya liat itu pas lagu ini dibawain di acara peluncuran jersey Manchester City musim 2011/2012. Saya bukan fan City sih tapinya.


Againts Me! - Ache With Me


Ini buat yang lagi sibuk bikin skripsi deh.


Mad Caddies - State of Mind


Saya suka lagu2 begini, engga perlu dibawain dengan menye-menye amat buat nyeritain situasi berbingung-bingung atau bersedih-sedih. Ini buat saya aja.


Sheila on 7 - Tunggu Aku di Jakarta


Saya juga engga tau kenapa masukin lagu ini. Yang jelas So7 itu salah satu band arus utama Indonesia yang engga nyebelin. Sayang, video ini kacau nih. Suaranya mendem, engga nemu yang oke.


Poultrygeist Soundtrack - Slow Fast Food Love


Ini bonus. Lagu bodoh dari film bodoh, film bodoh yang sangat menyenangkan. Kalian harus nonton film ini. Oh ini malem minggu, kan? Film yang tepat buat nungguin Liverpool vs Norwich entar malem.

Minggu, 09 Oktober 2011

Review Film : Red State (2011)


Warning : It may contain spoilers !

Selama ini Kevin Smith dikenal sebagai sutradara spesialis film komedi. Mulai dari film-film yang masuk di View Askewniverse termasuk di dalamnya Clerks, Mallrats, Chasing Amy, Dogma, Jay and Bob Strikes Back, dan Clerks II, serta film di luar itu termasuk Jersey Girl dan Zack and Miri Make Porno. Dengan rekam jejak seperti itu, para penggemar dibuat kaget saat dia ngumumin bahwa karya selanjutnya setelah Cop Out adalah sebuah film horror. Film yang mengambil latar belakang agama dan politik ini hasilnya memang benar-benar beda dari film-film dia sebelumnya. Sayang penggarapan yang telalu ambisius dalam membuat film ini engga punya hasil yang maksimal.

Tersebutlah 3 anak SMA bernama Travis, Jarod dan Billy-Ray. Sama seperti anak-anak seumuran mereka lainnya, ketiganya sedang dalam fase dimana hanya ada dua hal dalam pikiran mereka, yaitu : seks dan hal lainnya. Maka ketika di jejaring sosialnya datang sebuah undangan pesta seks dari seseorang di Coopersdell yang letaknya “di situ doang”, datang dan memastikannya adalah langkah yang paling tepat bagi mereka. Meskipun undangan itu berasal dari wanita yang usianya hampir sama dengan ibu mereka. Satu hal yang ada dalam otak mereka adalah “I’m gonna fuck tonight”

Dengan wagon biru pinjaman dari ayah Travis, ketiga pemuda horny ini pun berkendara ke Coopersdell. Entah gara-gara hilang konsentrasi karena engga sabar buat memanjakan kelaminnya atau gara-gara meleng karena nyetir sambil sibuk ngebir plus bercanda, Travis sempet nyerempet sebuah mobil yang sedang parkir di pinggir jalan. Sempat berhenti untuk mengecek, mereka memilih lari setelah tahu di dalam mobil itu ada orangnya. Siapa juga yang peduli pada mobil yang penyok saat ternyata mereka bisa sampai tujuan? Nyonya rumah yang menurut mereka ternyata masih mendingan ini pun menyambut dengan berbotol-botol bir, katanya sih sebagai semacam stimulan. Selesai dengan birnya, ternyata bukan ibu-ibu telanjang dan kenikmatan seks yang mereka dapatkan.


Jarod terbangun dari pingsannya dan menyadari bahwa dia dan teman-temannya telah dijebak. Ibu-ibu itu ternyata anggota sebuah kelompok fundamentalist, jemaat gereja Five Points. Gereja ini dipimpin oleh Abin Cooper, seorang pastor tua yang selalu menyampaikan khotbah-khotbah yang berisi kebencian pada orang-orang yang dianggap menentang agama, semacam Habib Rizieq kalau di Indonesia. Dan sama seperti FPI, para jemaat Five Points ini pun merasa sebagai wakil Tuhan di dunia, sudah tugas mereka untuk menghukum para pelaku maksiat. Beda dengan FPI yang keliatannya grusa-grusu dan haus sorotan kamera, kelompok ini lebih sistematis dan rahasia. Mereka mendapat korbannya dengan memasang jebakan di dunia maya dan mengeksekusinya di gereja mereka sendiri. Kesamaannya, kelompok-kelompok seperti ini engga pernah melakukan apapun kecuali teror, dan itulah yang harus dihadapi Jarod dan kawan-kawannya.

Red State mengawali kisahnya dengan sangat baik. Pengenalan karakter yang singkat dan engga bertele-tele, bikin kita engga perlu menguap berkali-kali sepanjang 20 menit pertama seperti biasanya kita nonton film. Segera, kita dibawa masuk ke dalam teror yang disebarkan Abin Cooper dan para jemaat Five Points Church. Khotbah Abin Cooper soal kemaksiatan harus dilawan sangat efektif untuk ditampilkan di layar, betapapun lamanya bagian itu menyita durasi film. Khotbahnya bisa mengganggu siapapun penontonnya (yang setuju/engga, yang simpatik/benci) untuk alasan-alasan yang berbeda. Begitu pula saat mereka mengeksekusi seorang pendosa sambil menyanyikan lagu-lagu rohani dengan wajah yang tersenyum damai. Sekali lagi, kata yang tepat adalah menganggu. Sampai di sini, walau masih ada pada level rendah, intensitas ketegangan sudah mulai terbangun. Maka, dalam pikiran saya adegan-adegan selanjutnya adalah ketegangan-ketegangan total yang digarap dalam formula slasher pada umumnya.

Namun anehnya, tepat pada saat ketegangan baru di mulai dan teror yang lebih horor baru akan datang, Red State justru mendadak berubah jadi sebuah film action! Bukannya membiarkannya ketiga remaja ini kejar-kejaran dengan jemaat Five Points dan saling membunuh pada akhirnya, Kevin Smith justru memutuskan melawan para fundamentalis ini “lewat jalur hukum” dengan mendatangkan polisi! (lebih tepatnya ATF Agents). Ya Tuhan! Kemudian kita hanya diberi drama baku tembak yang membawa Red State menuju bagian ketiga, sebuah ending yang hancur lebur. Sebuah komedi yang sangat menggelikan, dalam arti negatif.

Emang sih, sejak awal Kevin Smith engga pernah bener-bener menjanjikan sebuah film horror. Dia bilang akan membuat sebuah film horror, “yaaa kalo itu dianggap termasuk film horror sih”. Saat itu sebenernya saya sudah menyiapkan diri buat engga memiliki ekspektasi apa-apa soal film ini, tapi ternyata tetep aja hasilnya mengagetkan. Oke, Red State mungkin emang bukan horror pada umumnya. Tetapi letak perdebatannya bukan pada hal itu. Engga pernah ada yang benar-benar peduli ini film termasuk horror atau bukan. Yang jadi masalah adalah perubahan genre antar sub plot yang dipaksakan di film ini.


Atmosfer horor yang udah dibangun di bagian pertama film ini saya rasa cukup potensial untuk dilanjutkan. Kenapa tiba-tiba berubah jadi film action? Seandainya Red State sejak awal diniatkan sebagai hybrid, katakanlah horror action atau horror comedy, mungkin malah engga akan jadi masalah ketimbang mengubah genre secara mendadak ditengah film seperti ini. Sebetulnya pun, model switch genre seperti ini engga masalah kalau eksekusinya bagus. Robert Rodriguez pernah melakukannya di From Dusk Till Dawn, di mana bagian pertama bergenre action dan berubah jadi horror di bagian kedua. Masalahnya Kevin Smith gagal melakukannya di Red State.

Saya masih saja bingung dengan keputusan ubah genre itu. Ada dua asumsi : Pertama, Kevin Smith sedang mencoba berinovasi dan memilih lepas dari gaya penceritaan dan plot film horror pada umumnya. Hasilnya adalah sebuah bukti bahwa engga selalu inovasi dan perubahan itu menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kedua, Kevin Smith kebingungan waktu menulis Red State. Engga terbiasa dengan gaya film horror yang straight forward dan minim eksplanasi, film ini jadi kebawa gayanya yang selalu ingin bercerita dan bertutur banyak hal. Hasilnya adalah sebuah bukti bahwa melakukan perubahan gaya dan ciri khas itu bukan sesuatu yang mudah, seengganya buat Kevin Smith.

Saya sih cenderung menganggap mungkin berdasar asumsi pertama. Soalnya, keliatan di sini bahwa Kevin Smith terlalu ambisius menyampaikan suaranya. Dia engga mau berhenti pada sindirannya buat para ekstrimis relijius. Sekalian aja dia kasih satir politik tentang aparat pemerintah yang di sini diwakili ATF Agents. Hal ini yang bikin Red State jadi kehilangan fokus.

Karena sebenarnya, dengan kebiasaan bertutur yang mumpuni dalam penulisannya, jika ketiga bagian film ini dianggap berdiri sendiri, sebetulnya masing-masing bagian bukan merupakan sesuatu yang buruk. Masing-masing punya cerita yang kuat dengan dialog-dialog mengesankan khas Kevin Smith. Ini seperti menonton 3 film berurutan. Tetapi sekali lagi dengan catatan jika ketiganya dianggap sebagai bagian-bagian yang berdiri sendiri. Kenyataannya ketiganya adalah bagian-bagian sebuah film dalam satu rangkaian cerita. Maka yang terpampang adalah sebuah kekacauan.

Mengesampingkan cerita yang berantakan tersebut, Red State masih punya poin-poin positif. Pertama adalah penampilan mengesankan dari seluruh pemeran. Terutama Michael Parks sebagai Pastor Abin Cooper yang dengan khotbah-khotbah kebenciannya dan operasi lapangannya sukses bikin pendukungnya setuju dan pembencinya geram setengah mati. Poin positif kedua adalah Red State bisa dibilang berhasil secara visual. Tata kamera dan editing yang memuka patut menuai pujian. Cek aja adegan kejar-kejaran di tangga yang keren itu. Dari segi teknis gambar, mungkin ini film terbaik Kevin Smith sejauh ini.

Tetapi walaupun diakui istimewa, poin-poin positif tadi engga mampu menyelamatkan Red State secara keseluruhan. Untuk berusaha objektif, saya memandang film ini engga sebagai seorang fan Kevin Smith yang kecewa karena karya idolanya engga sesuai harapan. Saya mengapresiasi Red State sebagai seorang penikmat film yang yang gemar nonton film apa aja. Dan kenyataannya, film yang dulu berstatus film yang paling saya tunggu di 2011 ini akhirnya menjadi salah satu film yang paling engga menyenangkan.

Jumat, 30 September 2011

Ini Bikin SIM atau Latihan Sirkus ?

Di usia saya yang udah segini ini, saya baru dapet SIM, baru bikin beberapa saat yang lalu. Saya bikin SIM engga lewat jalur resmi, tapi nembak lewat calo. Bangga? Sama sekali engga tuh. Saya jengkel. Saya tau kalo semua orang juga udah tau praktek sesat itu merupakan rahasia umum, tapi ketika saya udah mengalami sendiri gimana rasanya dipermainkan polisi, kejengkelan saya makin berlipat. Masalahnya saya engga bisa apa-apa kecuali ngomel-ngomel lewat tulisan ini.

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu saya mau bikin SIM C di Polres. Setelah tanya sana-sini, terutama para polisi kenalan orang yang saya kenal, semua memberi jawaban yang sama : “Dateng sendiri aja, ikut tes, cepet dan murah kok”. Kata mereka sekarang udah engga ada praktek percaloan dalam praktek pembuatan SIM. Saya sebenernya engga percaya, tapi waktu itu saya (entah kenapa) percaya aja. Saya pikir kalo itu emang bener berarti baik lha, mengingat beberapa tahun yang lalu praktek bikin SIM lewat calo itu bisa dibilang terang-terangan. Ya udah kan, saya dengan semangat 69 dateng ke Polres buat bikin SIM. Turun dari motor itu udah langsung disambut papan gede bertuliskan “ Pemohon wajib datang sendiri, dilarang melalui calo”. Ok, mungkin emang ini artinya Kepolisian serius untuk menjadi bersih. Sayang, nantinya semua itu cuma berhasil bikin saya kecewa berat.

Prosedur pembuatan SIM yang bener itu melalui beberapa tahap, ada tes kesehatan, tes teori, tes praktek dan pemotretan, setelah itu baru dapet SIM. Singkat kata, saya lolos di dua tes awal, kesehatan dan teori. Di sini mulai ada yang janggal nih, seorang peserta wanita yang lolos tes ini engga ngelanjutin ke tes praktek bareng kami-kami yang juga lolos. Engga perlu jadi detektif buat tahu kalo dia langsung ke ruang pemotretan. Masa dia pulang? Lagipula waktu masuk ke ruang tes teori dia ditemani salah satu polwan yang kemungkinan besar kerabatnya/kenalannya. Ah, tapi biarin aja, kita belum bener-bener punya bukti.

Lanjut ke tes praktek, saya gagal di sini. Kejanggalan lain terpikir, masa dari sekitar 20 orang yang ikut tes praktek cuma satu yang berhasil. Mereka yang gagal diminta untuk mengulang ujian praktek satu minggu kemudian. Di sini saya mau bicara fakta. Pada saat praktek pertama kali, saya sempet kenalan dengan mas-mas yang juga ikut ujian praktek di sesi yang sama. Sebut saja namanya Mas Boy. Tenang aja, kita engga tuker2an nomor hape kok. Mas Boy ini udah 2x ikut ujian praktek dan selalu gagal, artinya minggu depan adalah usahanya yang ketiga kalinya. Nah, minggu depannya saya ketemu lagi sama Mas Boy. Trus saya sapa, kan :

Saya : “Eh, Mas Boy. Gimana, berhasil?.”
Mas Boy : “Saya engga ikut ujian, kamu juga engga usah, langsung ngomong aja ke petugas ujian itu.”
Saya : “Maksudnya?”
Mas Boy : “ Bilang aja udah ikut ujian praktek berkali-kali tapi gagal, bilang minta kebijaksanaan gitu.”
Saya : “Trus”
Mas Boy : “Ya, ntar kan dikasih pengarahan, paling suruh bayar 250 ribu.”
Saya : “Gitu ya, Mas? Wah tengkyu infonya, Mas.”

Ah, sialan! Pantesan engga ada calo, lha calonya oknum-oknum polisi itu sendiri. Saya sih pengen langsung menjalankan sarannya Mas Boy, tapi saya engga bawa duit segitu. Jadi saya pulang aja sambil tahan emosi. Di rumah saya cerita ke bapak saya, lantas beliau menghubungi polisi-polisi kenalan dari orang-orang yang beliau kenal. Setelah dicurhatin panjang lebar, akhirnya kebanyakan dari mereka mau untuk bantuin bikin SIM. Yang lebih bikin kaget adalah semua pasang tarif sama persis, 250 ribu! Masa iya, kita udah tau kaya gini engga bisa menyimpulkan kalau ada yang aneh?

biasa disebut “koordinasi”

Beberapa hari terlewat saat saya bawa lebih banyak uang cuma buat bikin selembar kartu yang engga bener-bener ada gunanya itu. Beberapa oknum polisi yang menjanjikan bantuan ternyata engga ada di tempat saat itu. Setelah beberapa saat kembali bingung dan melepas beberapa pertanyaan lain, ada info bahwa di sekitar kawasan Polres ada warga sipil yang bersedia memberi bantuan mengurus pembuatan SIM. Pemohon seperti saya cuma perlu kasih fotokopi KTP plus sedikit uang lelah, silakan tunggu giliran pemotretan. Saya yang sudah males sama ujian praktek omong kosong itu akhirnya menggunakan jalur sangat tidak resmi ini. Biaya yang harus saya keluarkan Rp 400.000,- !!! Cih. Maaf nih kalo berprasangka, tapi saya berhak curiga bahwa itu 100 ribu buat biaya SIM, 150 ribu buat oknum polisi, 150 ribu buat calo. Oh, atau 100 ribu buat biaya SIM, dan 300 ribu buat dana kemanusiaan?

Ok, jadi praktek percaloan itu masih ada. Lantas, kalau saya kecewa dan tidak setuju dengan itu kenapa saya tetep bikin SIM lewat calo? Harusnya lewat jalur resmi dong? Eh, saya sih pengennya juga gitu. Tapi kawan, engga segampang itu.

Ada yang pernah ikut ujian SIM? Saya tanya dulu soalnya banyak temen yang udah saya tanya, dan mereka selalu jawab belum, karena dapet SIM-nya nembak. Ya, paling engga semua orang tau lah cara ujiannya itu kan? Tapi engga semua orang ngerasain langsung, dan saya merasa wajib kasih cerita tentang ujian itu menurut versi saya. Ujian teorinya mah kita lewatin aja ya. Pertama karena itu cuma soal-soal seberapa paham kita akan peraturan-peraturan lalu lintas, kedua karena ujian teori itu masih masuk akal. Ujian praktek itu yang aneh.

Saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saya engga tau gimana ujian praktek di tempat lain, tapi berhubung ini acaranya kepolisian, harusnya sih di mana aja sama aja, kan standard. Jadi ujian prakteknya itu kita harus berhasil melewati balok-balok kayu yang disusun zig-zag dengan lebar hanya sekitar 75 cm tanpa terjatuh. Sekilas mudah memang, tapi setelah mencoba saya rasa itu adalah ujian yang engga bener.

Buat saya (dan kebanyakan pemohon lain, saya yakin bisa sampai 90 % pemohon), ujian prakteknya susah banget! Polisi pasti akan bilang kalau ujian itu udah sesuai standard, dan bisa untuk menilai kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi sebenarnya di jalanan.

Hah? Yang bener aja, Pak? Sekarang gini deh, saya mau kasih dua pendapat. Pertama, yang namanya ujian itu harus sesuai dengan kemampuan pesertanya, paling engga tuh engga terlalu jauh dari kemampuan peserta. Sedangkan yang kita lihat pada ujian praktek pembuatan SIM engga seperti itu, kalo emang itu sesuai standar yang ditetapkan, kenapa jauh lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil? Artinya, apakah sebenernya mayoritas pengendara motor di Indonesia itu engga layak dapet SIM? Tapi kenapa rata-rata pemohon akhirnya tetep datep SIM? Apa karena mereka ngulang ujian berkali-kali sampai berhasil? Saya kok engga percaya. Lepas dari itu, ujiannya aneh kan? Dalam uji kemampuan kalo ada sedikit orang yang gagal, berarti emang orang itu engga punya kemampuan. Sedangkan kalo di ujian lebih banyak orang yang gagal, berarti ada yang salah dengan ujiannya. Jadi, standar dari mana ?

Lagipula, yang kedua, ujian prakteknya menurut saya sih engga bisa jadi acuan buat menunjukkan kemampuan pengendara dalam menghadapi situasi sebenernya di jalanan. Bisa belok zig-zag di celah sempit gitu engga menggambarkan apapun. Selama belasan tahun naik motor di jalan saya nyaris engga pernah tuh ketemu situasi yang bikin saya sampai harus zig-zag kaya gitu, bisa diitung pake jari-jari sebelah tangan doang lah berapa kalinya. Engga bisa dipungkiri kalo teknik berkendara emang berpengaruh buat keselamatan di jalan. Tapi engga sampai yang begitu-begitu amat juga ah tekniknya.

Teknik standar rasanya sih udah cukup ya. Dan ngomongin soal keselamatan di jalan, sebetulnya ada yang lebih sering bikin bahaya para pengguna jalan, yaitu dari sisi perilaku berkendara.Pengendara yang punya teknik mumpuni tapi engga ikut peraturan dan/atau ugal-ugalan itu yang lebih bikin bahaya pengguna jalan yang lain, kan? Kecelakaan di jalan yang utama kan disebabkan perilaku yang engga bener, setelah itu karena hal-hal yang diluar kuasa, baru yang terakhir karena teknik berkendara yang baik. Okelah, memang persoalan perilaku ini agak susah ngetesnya, jadi mungkin karena itu engga dimasukin ke tahapan ujian pembuatan SIM. Trus kalo gitu ya itu tadi, jangan ujian prakteknya jadi lebay lah. Kita ini bikin SIM atau latihan sirkus? Kenapa engga sekalian aja suruh ngelompatin lingkaran api?

abis ini ke ruang pemotretan

Mungkin akan ada yang bilang kalo ada yang berhasil berarti bukan berarti ujian itu engga bisa diterapkan. Iya sih emang, itu polisi yang kasih contoh juga bisa, tapi kan dia emang tiap hari begituan, wajar. Trus beberapa pemohon bisa? Iya, tapi mayoritas kan engga bisa. Kalo ada satu yang bisa bukan berarti semuanya bisa kan? Kami2 yang lain sih juga lama-lama bisa kalo latihan terus, toh polisi juga kasih waktu seminggu buat ngulang ujian. Tapi, hey! Emangnya para pemohon SIM itu pengangguran semua apa? Beberapa dari kami adalah pegawai kantoran yang susah minta ijin bos, beberapa dari kami punya usaha sendiri yang kalo satu hari tutup berarti hari itu kami engga dapet penghasilan, beberapa lainnya siswa yang sekolah 6 hari seminggu, atau ibu rumah tangga yang juga sibuk berorganisasi, atau artis sinetron yang sibuk syuting stripping. Dan polisi kasih waktu buat ngulang ujian praktek SIM? Pak polisi, waktu luang kami engga sebanyak itu buat latihan begituan. Kami akan datang mengulang ujian praktek minggu depan cuma untuk gagal lagi.

Itu artinya, kalo saya, memaksakan diri bikin SIM lewat jalur resmi, bisa2 saya baru dapet SIM setelah melewati ujian praktek yang kesekian puluh kali. Maka berapa waktu yang saya sia-siakan dan biaya yang saya habiskan? Bandingkan dengan lewat calo yang hanya membutuhkan waktu setengah jam tanpa perlu repot-repot ujian. Saya sih pengennya lewat jalur resmi. Tapi saya terpaksa bikin SIM dengan cara nembak. Atau dipaksa?

Sebagai syarat untuk mendapatkan SIM, seolah rangkaian ujian yang harus kita jalani itu masuk akal. Tujuannya biar mereka yang ngedapetin SIM adalah orang-orang pilihan yang memang mampu berkendara dan memahami dan menerapkan atauran-aturan lalu lintas. Apa bener begitu? Semoga aja sih bener, tapi buat orang seperti saya yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk berprasangka buruk, prosedur pembuatan SIM lebih keliatan seperti sebuah jebakan. Uji kesehatan dan uji teori mungkin bisa saya terima walaupun uji kesehatan juga sebetulnya mencurigakan karena rasanya itu sih cuma formalitas. Uji teori jelas buat mengetahui sejauh mana pemahaman pengendara soal rambu dan peraturan lalu lintas. Nah, ujian prakteknya nih, ampun deh.

Saya yakin polisi pasti lebih tau soal segala macam yang udah saya bahas di atas. Bahwa ujian prakteknya aneh, bahwa perilaku lebih berperan di jalan raya, dan sebagainya, dll. Bahkan saya yakin bahwa masih ada praktek2 sesat dalam pembuatan SIM. Tetapi kenapa polisi diam dan bersikeras kalo prosedur sudah sesuai standar dan selalu ngomong ke kita suruh bikin SIM lewat jalur resmi? Sebagai masyarakat yang membiayai hidup mereka, boleh dong kita bertanya-tanya pada kepolisian, apa ini emang disengaja? Soalnya selama ujian prakteknya masih seperti itu, pasti akan selalu ada praktek percaloan.

Sejujurnya saya emang kecewa sekali harus bayar lebih mahal untuk dapet SIM dengan cara nembak, tetapi saya jauh lebih kecewa karena saya merasa dibohongi. Katanya suruh lewat jalur resmi tapi ternyata kepolisian memang belum sebersih yang digemborkan selama ini. Ok, soal kecurigaan2 yang saya lontarkan mungkin salah, hanya Tuhan dan pihak polisi yang tau kenyataannya. Masyarakat cuma bisa bertanya-tanya. Yang jelas kepolisian engga memuaskan. Engga usah jauh2 soal kemampuan nangkep koruptor atau teroris deh, soal pembuatan SIM aja mengecewakan. Kalo begini terus sih masyarakat akan memberi nilai buat kinerja kepolisian engga lebih banyak dari jumlah gol yang diciptakan Iker Casillas buat timnas Spanyol.

Buang-buang waktu engga sih ngomel engga jelas begini? Saya tau semua orang juga udah tau apa yang saya omongin sebelum baca ini. Semua orang tau ini rahasia umum. Saya tau tulisan ini engga berefek apa-apa juga.


mending nyanyi aja


Note :
Video diatas adalah rekaman Morgue Vanguard a.k.a Ucok Homicide yang jammin' sama Public Enemy di Java Soulnation kemarin. Ucok yang ngerap diiringi Flavor Flav yang ngedrum, masukkin chorus Fuck The Police-nya Thurz hahaha.. terharu nih liat legenda ketemu legenda.

Dan sebagai bonus karena udah baca postingan ini sampai selesai, silahkan download mixtape "Fuck The Police" dari Morgue Vanguard di link berikut ini :

http://gutterspit.com/2011/09/09/fuck-the-police-mixtape/