Sudah seminggu sejak hari pertama saya resmi kembali ke kota ini. Sudah saatnya pula sore itu saya ambil uang di ATM, tentunya setelah jam-jam telepon penuh perdebatan dengan ayah saya yang masih harus terpaksa dibuat repot anak sulungnya ini. Semoga secepatnya saya bisa membalas kerepotan ayah saya dengan kerepotan saya pada beliau. Tidak ada yang aneh dari sore itu kecuali kartu ATM saya yang tiba-tiba tidak bisa digunakan. Sesuatu yang memaksa saya untuk kembali berdebat dengan ayah saya, sesuatu yang sebenarnya bukan salah beliau. Karena beberapa saat dari berakhirnya pembicaraan kami, saya teringat bahwa PIN yang saya masukkan tadi bukanlah angka-angka yang benar. Saya pernah mengubahnya beberapa saat yang lalu.
Maka saya kembali ke lokasi ATM. Lokasi tidak terlalu ramai, cukup beberapa menit untuk antri, cukup beberapa menit untuk kembali mengambil motor di tempat parkir. Saya rasa saat itu Tuhan berbisik pada saya untuk memperhatikan sekeliling. Seperti halnya Tuhan membuat saya lupa PIN saya, dan seperti halnya Tuhan mengingatkan saya bahwa itu bukan PIN yang benar. Sore itu Tuhan menempatkan saya pada waktu dan tempat yang Dia sediakan untuk sekali lagi mengingatkan saya untuk apa saya kembali ke kota ini. Kamu. Ini adalah kesesuaian yang saya rasakan untuk ke ribuan kali. Semesta telah menempatkan kita di satu tempat yang tidak pernah kita rencanakan untuk kita ada di sana bersama. Untuk kesekian kali.
Tidak terhitung berapa kali kita dalam posisi seperti sore itu. Saling berpapasan, tetapi tidak saling menyapa. Sepertinya kamu tidak melihat saya, dan/atau saya rasa kamu memang tidak peduli. Tapi saya tidak terlalu peduli bahwa apakah kamu peduli atau tidak. Itu urusan kamu, urusan saya adalah bahwa saya peduli. Tidak terhitung berapa kali kita ditempatkan pada situasi di mana tempat dan waktu bagi kita adalah sama. Meskipun kebanyakan dari itu urusan kita berbeda. Terlalu naif memang, jika saya pikir hanya karena seperti itu maka berarti sesuatu. Tapi saya juga bukan orang yang terlalu percaya dengan yang disebut kebetulan. Kalaupun itu tidak berarti apapun bagimu, maka pasti itu berarti sesuatu bagi saya. Tidak terhitung berapa kali kita dalam posisi seperti sore itu, tidak terhitung berapa kali kita ditempatkan pada situasi di mana tempat dan waktu bagi kita adalah sama. Tapi saya mengingat kebanyakan darinya.
Mungkin suatu saat kita harus saling menyapa jika kita bertemu situasi yang sama. Okelah, mungkin jika kamu tidak merasa seperti itu, saya rasa saya yang harus melakukannya. Bahkan seharusnya sudah saya lakukan sejak dulu. Saat dekanat fakultas belum menjadi tempat yang asing bagi saya. Tapi sudahlah, terlalu sering menengok ke belakang juga tidak baik. Kita lihat saja lubang jalan mana yang harus kita hindari di depan.
Saya punya terlalu banyak alasan untuk tidak mulai menyapamu. Alasan yang saya buat sendiri, yang sebagian masuk akal dan lebih banyak darinya tidak. Mungkin suatu saat kamu tidak perlu membawa teman saat semesta memutuskan kita untuk berada dalam situasi seperti sore tadi (dan ribuan situasi yang sama sejak 3 tahun yang lalu) agar saya berani menyapamu. Apa itu bisa jadi jaminan? Tidak juga saya rasa. Tapi pintu kemungkinan selalu terbuka lebih lebar saat pilihan yang tersedia lebih banyak. Toh, saya tidak merasa bahwa tulisan ini ditujukan padamu. Lebih kepada saya sendiri. Katakanlah kamu setuju dengan syarat itu, lantas bagaimana kita bisa tahu kapan kita berada pada situasi yang sama lagi? Atau kita buat saja situasi itu? Memangnya kita berani? Saya maksudnya.
Ah, pada dasarnya bukan itu masalahnya saat ini. Sebenarnya yang sedang terjadi adalah seorang pecundang yang tidak berhenti tersenyum atas kejadian yang besar sekali kemungkinannya tidak berarti apapun. Bodoh memang karena hal seperti itu seharusnya hanya terjadi pada remaja usia belasan. Kelompok generasi yang sebenarnya saya paling sebal terhadapnya. Pecundang bodoh yang terlambat mengalami pubertas ini sedang bahagia.
Pada akhirnya, dalam kebodohan yang nyata dan kebahagiaan yang (masih) semu ini, pada saat kamu mungkin melihat saya sore itu dan heran kenapa saya kembali ke kota ini, sebenarnya, kamu adalah alasannya.
ah berlebihan sekali anda ah..
BalasHapussesuatu yang masuk akal untuk kembali ke kota tercinta :D
BalasHapusIni sebenernya ngomongin PIN apa "Kamu" sih..??
BalasHapusNgemeng2 "Kamu" teh Saha..?? :P
1 kataa dari guee #EEAAA
BalasHapuspost ini perlu dihapus kayaknya :))
BalasHapus